Menunda Pilkada

Posted: Juli 21, 2015 in tulisanku di media

Komisi II DPR RI yang membidangi Pemerintahan dalam negeri “ngotot” meminta KPU untuk menunda Pilkada. Sebagian dari para anggota Komisi II tersebut bahkan siap melakukan revisi terhadap UU No.8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota yang sejatinya mengatur tempus pelaksanaan Pilkada serentak pada Desember 2015 mendatang.
Alasan pertama penundaan Pilkada itu lantaran adanya temuan dari hasil pemeriksaan BPK RI yang menyatakan ada indikasi pengelolaan keuangan di KPU RI yang bermasalah. Nilai dana yang disinyalir bermasalah itu nilainya ratusan Milyar rupiah. Sebagian dari dana yang bersamalah itu adalah dana yang digunakan untuk pelaksanaan Pileg dan Pilpres 2014 lalu.
Bagi Komisi II, temuan BPK itu harus dituntaskan hingga ke ranah hukum, agar pelaksanaan Pilkada 2015 yang dilaksanakan oleh KPU di 269 daerah di Indonesia tak mengundang penyalahgunaan keuangan kembali.
Belakangan, alasan penundaan Pilkada yang dikemukakan Komisi II DPR RI bertambah hingga ke waktu penyelesaian sengketa hasil Pilkada yang di dalam UU Pilkada hanya diberikan selama 45 hari. Pada pihak lain, ketentuan penyelesaian sengketa hasil di MK belum sejalan dengan ketentuan pada UU MK. DPR RI atas alasan itu hendak segera merevisi UU Pilkada, namun karenanya, waktu pelaksanaan Pilkada 2015 harus diundur.

Menyelelamatkan “dualisme” kepengurusan
Polemik soal keinginann mengundur jadwal Pilkada sesungguhnya hanya efek dari “ngototnya” sikap KPU RI yang tak mau mengakomodasi kehendak DPR. DPR menghendaki agar parameter pendaftaran calon peserta Pilkada dari Parpol yang terlibat dualisme kepengurusan ialah mereka yang mengantongi Putusan Peradilan yang paling akhir.
KPU berdasarkan PKPU No.9 Tahun 2015 menggunakan parameter putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht) atau adanya perdamaian (islah) kedua kubu bersengketa yang dilegalisasi oleh SK Menkumham atas kepengurusan hasil islah itu. Kedua parameter itu sedari awal sulit, bahkan nyaris mustahil dikantongi Partai Golkar dan PPP yang sedang berkonflik kepengurusan.
Menunggu putusan inkracht jelas memerlukan waktu lama, padahal pada 26-28 Juli 2015 mendatang seluruh parpol sudah harus mendaftarkan calonnya ke KPU di wilayahnya masing-masing. Begitupula berharap adanya islah dengan menghasilkan kepengurusan baru adalah logika yang sulit, karena sejak awal konflik ini lantaran adanya klaim soal keabsahaan ketua umum yang berbeda.
Secara jujur, norma yang dibuat KPU RI dalam PKPU No.9/2015 sangat berpotensi membuat Partai Golkar dan PPP tidak ikut dalam perhelatan pencalonan peserta Pilkada 2015. Padahal secara konstitusional, kedua partai ini nyata-nyata memiliki hak dan dukungan dalam Pemilu Legislatif sebagai syarat sah mencalonkan peserta Pilkada. Pada titik ini, persoalan teknik penentuan kepengurusan mana yang dianggap sah di mata negara di Golkar dan PPP justru akan menggerogoti hak konstitusional mereka mengikuti Pilkada.
Jika logika itu yang terjadi, maka alasan Komisi II DPR RI untuk segera merevisi UU Pilkada menjadi masuk akal. Lantaran memaksa KPU merubah PKPU No.9/2015 membangun kesan mengintervensi lembaga independen penyelenggara pemilu ini, namun jika itu tak diubah, maka potensi konflik mengangan di 269 daerah di Indonesia.
Jalan lain yang sekarang sedang ditempuh ialah, menunggu putusan MA perihal uji materiil PKPU No.9/2015 terhadap UU Pilkada. PKPU ini dianggap memperluas ketentuan dibanding dalam UU Pilkada.
Pada pihak lain, saya mendengar, jika pada hari ini 08 Juli 2015, MK akan membacakan Putusan terkait uji materiil Pasal 7 huruf r UU Pilkada yang melarang keikutsertaan keluarga petahana dalam pencalonan Pilkada. Jika MK mengabulkan ketentuan ini, boleh jadi ini akan menjadi amunisi baru Komisi II DPR RI untu memaksa Pilkada diundur, agar Pasal 7 huruf r itu direvisi dalam UU Pilkada yang baru mendatang. Wallahu’alam.

Bpost, 8 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s