Haji Leman dan Partai Golkar

Posted: Juli 21, 2015 in tulisanku di media

Minggu, 14 Juni 2015 Pukul 14.00 Wib, di tengah aktivitas saya sebagai Juri Kompetisi Debat Konstitusi Mahasiswa antar Perguruan Tinggi Tingkat Nasional yang diselenggarakan Mahkamah Konstitusi di Cisarua, Bogor, saya menerima pesan pendek. “H.Sulaiman HB, meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra Jakarta, Pukul 13.50 Wib. Semoga husnil khaatimah”, demikian bunyinya.
Dari sisi lokasi sesungguhnya saya tak begitu jauh dengan tempat beliau menghembuskan nafas terakhir, namun kepadatan agenda selama 4 hari di sini membuat saya tak bisa ke Jakarta untuk bertakziah. Karenanya, saya persiapkan tulisan sederhana ini untuk memberi catatan atas segala kebaikan Haji Leman (sapaan akrab H.Sulaiman HB), khususnya dalam bidang hukum tata negara.
Tak sekedar Pemimpin Parpol
Yves dan Knapp (2005) membuat indikator pelembagaan (institutionalization) partai politik di suatu negara. Semakin partai politik terlembaga, maka partai politik tersebut semakin kokoh menopang demokratisasi di negara itu. Indikator tersebut, ialah : usia perkembangan partai politik (its age), kemampuan organisasi untuk melepaskan diri dari kepentingan personal atau kelompok yang berkuasa (the depersonalization of organization) dan kemampuan untuk menghadirkan organisasi yang mapan yang membedakan berdasarkan ideologi dan nilai-nilai dasar perjuangan (organizational differentiation).
Haji Leman memimpin Partai Golkar Kalsel pasca lepasnya hubungan Golkar dan penguasa dengan segala keistimewaan hak yang dimiliki Golkar pada masa orde baru dahulu. Di tengah badai yang menimpa Golkar pasca reformasi, Haji Leman justru menunjukkan, suara Golkar di Kalsel tak pernah (bisa) dikalahkan dari Pemilu 1999 hingga 2014 lalu. Jika pada awal reformasi banyak pihak yang beranggapan, Golkar akan segera hancur dan tak mendapat dukungan rakyat. Haji Leman membuktikan sebaliknya. Dengan rekam jejak seperyi itu, Golkar bersyukur usianya “diselamatkan” oleh sosok Haji Sulaiman HB.
Pada sisi ideologi dan karakter khusus partai, Haji Leman telah mampu pula memperlihatkan bahwa Golkar di Kalsel tak selamanya seciri dengan Golkar di tingkat nasional ataupun di daerah lain. Haji Leman memahami betul kultur masyarakat Kalsel yang religius, karenanya Golkar di bawah Pak Haji kerap kali menggelar kegiatan dengan balutan religiusitasnya. Sekitar 5 bulan lalu, beberapa orang di kampung saya, Mahang di HST berangkat umrah, karena kelompok maulid Habsyi kampung kami memenangkan pertandingan Maulid Habsyi yang dilaksanakan Partai Golkar. Inilah pembeda yang dilakukan oleh Pak Haji, sekaligus cara efektif untuk mengundang simpati publik atas Golkar.
Satu hal yang memang kerap menjadi kritik sebagian kalangan atas relasi Pak Haji dan Partai Golkar ialah, lamanya Pak Haji memimpin Partai Golkar Kalsel hingga periode ketiga. Jika dilihat dari sisi periodesasi semata, hal itu boleh jadi benar. Kendati demikian, saya merasa Pak Haji adalah sosok Ketua Partai yang berani menahan “syahwat” politiknya untuk tidak serta merta memanfaatkan partai bagi kepentingan pribadinya, misalnya untuk menjadi kendaraan beliau sebagai Gubernur.
Pak Haji menjadi ketua partai yang memposisikan diri sebagai manajer partai yang salah satu tugasnya mendistribusikan kader-kadernya ke institusi eksekutif dan legislatif melalui Pemilu. Pada posisi demikian, saya melihat cukup positif, bahwa seluruh kader partai masih dapat dikontrol oleh partai, jika ia bekerja secara serampangan, tidak maksimal dan jauah dari iodeologi Partai Golkar.
Dengan segala kelebihan yang dimiliki Pak Haji, saya melihat Partai Golkar Kalsel memang cukup tergantung pada sosok beliau, bukan sekedar sebagai seorang Ketua DPD I, melainkan pula sebagai sosok sentral yang dapat mengelola dan membesarkan Partai. Saya kira Parta Golkar pasti akan amat kehilangan sosok Pak Haji, terlebih kepergiannya di tengah cobaan dualisme kepengurusan yang menimpa Golkar saat ini.
Golkar bagaimanapun harus membuktikan (kembali), bahwa partainya adalah partai yang sehat dan terlembaga. Ia tetap tumbuh tanpa harus selalu ditopang oleh sosok Pak Haji. Pilkada 2015 dan Pileg 2019 adalah batu ujian bagi Golkar Kalsel untuk membuktikan itu. Wallahu’alam.
Bpost, 17 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s