Dana Aspirasi dan Keterpurukan Kita

Posted: Juli 21, 2015 in Tak Berkategori

Publik kembali dihebohkan oleh usulan sejumlah fraksi di DPR RI yang hendak memberikan dana aspirasi kepada setiap anggota DPR sebesar Rp.20 Milyar/tahun dalam RUU APBN 2016. Usulan itu bahkan kini telah menjadi sikap resmi DPR yang didukung oleh enam fraksi, minus fraksi PDI Perjuangan, Partai Nasdem dan Hanura.
Usulan itu kini berada ditangan Presiden. Secara konstitusional, RUU APBN adalah satu-satunya RUU yang pengusulannya harus melalui pemerintah, karenanya usulan DPR ke Presiden untuk memasukkan pos anggaran dana aspirasi itu menjadi keniscayaan. Harapannya, Presiden melalui Menteri Keuangan akan mengusulkan pos anggaran dimaksud dalam RUU APBN 2016 yang akan dibahas bersama DPR. Hasilnya dapat ditebak, APBN 2016 akan berjalan mulus dalam pembahasannya di Senayan.
Cara seperti ini boleh jadi akan mendapatkan rintangan, sebab Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla menyatakan tak akan menyetujui usulan dana aspirasi ini. Bagi mereka, penggunaan dana sebesar itu akan mengganggu postur anggaran nasional dan bertentangan dengan semangat efisiensi yang dilakukan pemerintahannya.

Kesenjangan makin nyata

Di luar perdebatan soal efisiensi anggaran, pemberian dana aspirasi Rp.20 Milyar/anggota/tahun itu akan menghasilkan kesenjangan pembangunan yang makin jauh antara Jawa-Sumatera Vs daerah di luar keduanya.
Pemilu kita yang menggunakan sistem proporsional akan menghasilkan postur DPR yang justru tidak proporsional dilihat dari kaca mata kewilayahan, karena sistem proporsional diukur berdasarkan jumlah penduduk semata. Demografi kita yang 60% penduduknya berada di Jawa ditambah 20% lainnya di Sumatera menghasilkan 80% kursi di DPR (hanya) mewakili dua Pulau itu, sisanya 20% kursi di DPR mewakili Pulau Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.
Dengan pola demikian, kehadiran dana aspirasi yang berbasis pada masing-masing anggota DPR itu akan menyebar sebanyak 80% di Jawa-Sumatera dan sisanya di luar daerah dimaksud.
Kehendak untuk menghadirkan dana aspirasi guna mempercepat jalannya pembangunan berbasis aspirasi masyarakat pada setiap daerah pemilihan yang diwakili masing-masing anggota DPR, boleh jadi adalah logika yang masuk akal. Namun penggunaan dana sebesar itu yang tertumpu sebagian besar di wilayah Jawa-Sumatera akan menyisakan persoalan pemertaaan pembangunan yang tak kunjung kita selesaikan.
Cara berfikir ini juga nampaknya tak sejalan dengan visi pembangunan Jokowi-JK yang hendak membangun Indonesia bukan hanya di episentrum pembangunan selama ini, Jawa-Sumatera, melainkan juga pada wilayah-wilayah yang selama ini termarginalkan.
Sepanjang sejarah pembangunan nasional, masalah ketimpangan pembangunan ini tak pernah dapat terselesaikan dengan baik.Ini pula yang berhasil menghasul sebagian anak bangsa untuk berontak, hingga mau memerdekakan diri. Di Kalimantan ini misalnya, setelah genap republik ini berusia 70 tahun, baru tahun ini tiang pancang pembangunan rel kereta api yang akan menghubungkan kota-kota di Pulau kita, dipancangkan.
Masih segar pula dalam ingatan kita, bahwa 2-3 tahun lalu, Kota Banjarmasin didera kemacetan yang cukup parah lantaran pembangunan jalan layang (fly over) Gatot Subroto yang panjangnya tak sampai 500 meter, namun dikerjakan dalam waktu lebih dari 2 tahun.
Kenyataan ini amat kontras dengan hasil-hasil pembanguna di Jawa misalnya. Bulan lalu, sepulang melaksanakan tugas akademik, menguji tesis di Universitas Brawijaya, Malang, saya melewati jalan tol baru dari Pasuruan yang tembus hingga ke Bandara Juanda. Jarak tol ini lebih kurang 70 km. Tol ini masih akan dilanjutkan hingga berujung di Malang Selatan.
Sebagai anak kandung Republik, saya miris melihat ketimpangan yang menganga ini. Kesedihan itu menjadi amat mendalam, ketika sebagian anggota DPR kita –boleh jadi sebagian berasal dari Kalsel dan Kalimantan lainnya- menyetujui dana aspirasi itu. Dana aspirasi yang membuat kita makin terpuruk. Wallahu’alam

Bpost, 30 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s