Diskusi Terbatas Konflik Balangan: Langkah Menuju Islah

Posted: Februari 25, 2012 in komentar di media
Diskusi Terbatas, Konflik Balangan Ishlah Keniscayaan berlangsung di Lantai Dua Kantor Banjarmasin Post Group, Kamis (23/2/2012). Hadir Kepala Staf Korem 101 Antasari, Letkol (Inf) Daryatmo, Asisten I Bidang Hukum dan Pemerintahan Setdaprov Kalsel, Isra Ismail, Pjs Kabid Humas Polda Kalsel, AKBP Aby Nursetyanto. Turut hadir akademisi dari Fakultas Hukum Unlam, seperti M Effendy dan Rifqinizamy Karsayuda.

Diskusi Terbatas, Konflik Balangan Ishlah Keniscayaan berlangsung di Lantai Dua Kantor Banjarmasin Post Group, Kamis (23/2/2012). Hadir Kepala Staf Korem 101 Antasari, Letkol (Inf) Daryatmo, Asisten I Bidang Hukum dan Pemerintahan Setdaprov Kalsel, Isra Ismail, Pjs Kabid Humas Polda Kalsel, AKBP Aby Nursetyanto. Turut hadir akademisi dari Fakultas Hukum Unlam, seperti M Effendy dan Rifqinizamy Karsayuda.

KATA ‘islah’ mencuat dari awal sampai akhir Diskusi Kasus Balangan yang diselenggarakan Redaksi Banjarmasin Post Group, Kamis (23/2). Peserta sepakat, damai harus diwujudkan di kabupaten pemekaran Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) itu.

Dalam diskusi yang dipandu kandidat doktor bidang hukum tata negara, M Rifqinizamy Karsayuda, itu terserap aspirasi bahwa kasus Balangan harus diakhiri demi mewujudkan masyarakat yang damai seperti niat awal berdirinya kabupaten itu.

Cara mencapai kedamaian adalah islah. Kedua belah kubu yang ‘berseteru’ harus duduk empat mata. Siapa mereka, tentu pasangan Syarifuddin-Fachrurrazi (Syafa) dan Sefek-Anshar yang kini pemimpin Kabupaten Balangan, hampir dua tahun itu.

Walau diskusi menganalisa aksi massa di Kabupaten Balangan sejak pertengah Januari 2012 itu bukan hanya dipicu oleh kasus politik uang pada pemilukada yang dimenangi pasangan Sefek-Anshar, tetapi kisruh itu bisa dihentikan dengan cara komunikasi.

Karena vonis Pengadilan Amuntai yang menjadikan seorang warga Balangan yaitu Syahril sebagai tersangka dalam kasus politik uang, itu hanya sebagai ‘pembalut’. ‘Skenarionya’ memang mengarah pada pelengseran Sefek.

Bila tuntutan ini dibiarkan digiring ke arah sana, tentu akan mencederai sejarah demokrasi. Sebab dalam kasus ini, DPRD tidak berwenang memberhentikan Sefek.

Dr Muahammad Effendy menyebutkan, dalam kasus ini, tidak ada wewenang DPRD memberhentikan Sefek. Sebab, hasil pemilukada tidak bisa dianulir oleh DPRD. Seorang bupati bisa dilengserkan bila dia menjadi terpidana atau tidak menjalankan kewajibannya sebagai kepala daerah.

Dalam kondisi apapun, anggota DPRD Balangan seharusnya tidak boleh mengeluarkan keputusan yang bertentangan dengan UU seperti yang dilakukan yaitu mengeluarkan keputusan membatalkan kemenangan Sefek-Anshar.

Kalau selama ini mereka berdalih ‘lebih baik bungul (bodoh) dari pada mati’ akibat tekanan dan ancaman massa Syafa, sebenarnya itu bisa dikoreksi melalui sidang paripurna yang akan dilaksanakan segera.

Mantan plt Bupati Balangan M Arsyad yang menjadi salah satu nara sumber pada diskusi itu menyebutkan caranya dengan ‘pura-pura bungul’ yaitu paripurna tetap digelar dengan tekanan apapun, namun hasilnya adalah sebuah keputusan yang menyerahkan masalah pelengseran Sefek ke yang berwenang yaitu mendagri.

Sementara itu, islah tetap diupayakan.

Sebab semua peserta menggarisbawahi bahwa masyarakat Balangan adalah masyarakat yang cinta damai. Masyarakat Balangan adalah penduduk yang memiliki kultur halus.

Dasar keinginan hidup damai sehingga bisa mencari rezeki yang baik, menjadi tujuan dasar mereka mendirikan kabupaten. Mereka menaruh harapan besar pascalepas dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) sembilan tahun lalu, membawa berkah lebih baik. Diayomi pemimpin yang bijak sehingga mendapat kemudahan mencari rezeki, agar bsia naik haji.

Keinginan demikian  diakui tiga tokoh yang ikut membidani lahirnya Kabupaten Balangan yaitu H Makkie, Muhammad Arsyad serta KH Husin Naparin. Ketiganya menjadi pemateri dalam diskusi kemarin.

Tetapi kenyataannya yang mereka terima lain. Masyarakat Balangan merasa kehilangan sifat leadership dari pemimpin yang ada. Kondisi ini yang ikut menjadi pemicu aksi massa tersebut. (*)

Mencari Aktor Utama

Selain masalah politik uang dan krisis leadership tadi, kisruh Balangan digerakan oleh pihak ketiga yang berlatar kepentingan lahan. Siapa orangnya dan dari kelompok mana? itu masih diselidiki pihak berwajib.

“Waktu yang akan menjawabnya,” ujar H Makkie, salah seorang deklarator Kabupaten Balangan.

Mengenai pihak ketiga ini istilahnya adalah ‘skenario’. Sebab, mengukur kepentingan pasangan Syafa atau Sefek, tidak akan sampai purun mengorbankan warganya sejauh ini.

Pihak ketiga yang tentunya ditopang dana kuat inilah yang kemudian memanfaatkan riak-riak yang ada di Balangan seperti kasus politik uang, krisis leadership serta kepentingan lahan ini, untuk menciptakan Balangan chaos.

Balangan sekarang memang belum chaos, tetapi kalau dibiarkan sangat boleh jadi menuju ke arah sana. Bila ini yang terjadi, jelas yang dirugikan bukan pihak Syafa apalagi Sefek, melainkan warga Balangan sendiri yang selama ini cinta dan mendambakan hidup damai.

Bahkan, ketua KNPI Balangan menyatakan aksi rusuh yang terjadi di daerahnya sejak pertengahan Januari 2012 yang dipicu oleh upaya pelengseran Bupati Sefek itu, membingungkannya.

Sebagai tokoh angkatan muda, dia mengaku sudah bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat adat di Balangan, termasuk tokoh Dayak Halong, mereka menyatakan tak pernah menginginkan ribut seperti ini.

Setiap aksi massa berlangsung, mereka mimilih tinggal di rumah. Ngeri, sebab aksi demo menggunakan senjata tajam seperti tombak dan parang. Itulah sebabnya, dia mengimbau pihak kepolisian untuk aktif melakukan razia senjata tajam terhadap warga yang berkeliaran.

Yang menyedihkan, menurutnya, selama aksi berlangsung beberapa pekan ini, mengakibatkan kerugian material warga.

“Setiap beredar isu hendak demo, masyarakat tidak bisa berjualan atau melakukan aktivitas lainnya. Mereka takut terkena dampak rusuh,” ujarnya.

Indikasi ke arah adanya pihak ketiga ini semakin jelas. Ketika para tokoh masyarakat dan pemuda di sana menyatakan tidak setuju dengan jalan aksi massa, lalu siapa yang melakukannya?

Data dari kepolisian menyebutkan lebih 50 persen peserta aksi massa bukan penduduk Balangan. Artinya ada banyak ‘orang luar’ yang bergerak di sana. (*)

Tenda Balangan

Balangan harus menuju islah. Itu yang disepakati peserta diskusi. Caranya, harus ada upaya menuju damai yaitu perdamaian yang sesuai dengan koridor hukum, bukan bargaining.

Tetap islah yang berpegang pada perundang-undangan. Seperti, DPRD Balangan tidak bisa mengakomodir tuntutan kubu Syafa untuk melengserkan Sefek melalui sidang Paripurna karena bertentangan dengan UU. Sebaiknya dewan melimpahkan keputusan ini ke mendagri. Apa pun keputusan mendagri nantinya, harus ditaai semua pihak. Ini poin untuk islah.

Pemikiran menarik datang dari Kasrem 101 Antasari Letkol Daryatmo. Menurutnya, islah Balangan bisa dikemas dalam sebuah konsep ‘Tenda Balangan’.

Tenda itu singkatan dari tenteran, damai dan aman untuk Balangan. Lagi pula kata ‘tenda’ itu mempunyai makna filosofis yaitu tempat orang berteduh dari panas atau hujan. Kalau mau yang sejuk yang di bawah tenda.

Untuk mencapai ke titik itu, menurutnya, perlu pihak ketiga sebagai mediator. Dan, yang paling tepat sebagai mediator dalam islah Balangan ini adalah Pemerintah Provinsi Kalsel yaitu gubernur.

“Istilah Jawa itu karepe opo bukan wanine piro. Itu untuk langkah islah di tingkat elit, tetapi juga perlu dilakukan pendekatan di tingkat grass root warga yang selama ini terlibat langsung di lapangan,” kata Daryatmo.

Islah juga perlu dilakukan melalui jalur informal yaitu menggunakan peranan tokoh-tokoh masyarakat dan adat di daerah itu untuk melakukan pendekatan personal. Melalui tokoh masyarakat itu bisa dilakukan pendekatan untuk memuluskan islah secara konprehensif.

Islah harus ada persiapan. Istilah urang Banjar, harus didahului dengan besesimpun bagemetan. Kalau sudah simpun di semua pihak, kita bisa mulai membuka islah, sehingga di forum itu tidak akan ada lagi ribut yang ada hanya sepakat.

Islah memang tidak bisa dilakukan sesegera mungkin. Apalagi, kondisi di Balangan masih panas. Yang pasti, semua lembaga kemasyarakat di daerah itu harus melaksanakan peranannya untuk mewujudkan Balangan yang damai.

“Kita yakin, berbagai elemen sudah melakukannya dan kita semua harus memberikan dukungan nyata. Kita juga yakin, masyarakat Balangan memerlukan siraman rohani, jadi tidak ada salahnya Pa Husin Naparin kembali membuka pengajiannya di sana atau kalau perlu bersafari dakwah,” kata Rifqinizamy memberikan kata akhir diskusi. (*)

diberitakan oleh Banjarmasin Post, 24 Pebruari 2012.

Komentar
  1. Ririe mengatakan:

    setiap demo warga tidak merasa ngeri ataupun ketakutan, tapi kami sebaliknya, kami selalu ingin tahu aksi-aksi demo tersebut! hanya sekali terjadi anarkhis dengan menggunakan parang para demonstran melakukannya karena memang tersebar issue waktu itu mereka akan di hadang oleh massa demonstran tandingan. Kemudian diharapkan sebelum menilai, berkomentar, berdialog maupun memuat tulisan ke publik mengenai balangan, hendaknya ikuti perkembangannya dengan ikut serta, turut serta merasakan menjadi masyarakat balangan poros tengah tanpa memihak salah satu kubu, maka anda akan mendapatkan kenyataan yang sebenarnya.

  2. Ririe mengatakan:

    Setiap aksi massa berlangsung, mereka mimilih tinggal di rumah. Ngeri, sebab aksi demo menggunakan senjata tajam seperti tombak dan parang. Itulah sebabnya, dia mengimbau pihak kepolisian untuk aktif melakukan razia senjata tajam terhadap warga yang berkeliaran.

    Yang menyedihkan, menurutnya, selama aksi berlangsung beberapa pekan ini, mengakibatkan kerugian material warga.

    “Setiap beredar isu hendak demo, masyarakat tidak bisa berjualan atau melakukan aktivitas lainnya. Mereka takut terkena dampak rusuh,” ujarnya.

    Tolong Koreksi dan buktikan teks diatas itu, benar, rekayasa, atau anda juga di bayar?

    • M.Rifqinizamy Karsayuda mengatakan:

      secra pribadi saya tdk pernah menulis dan berkomentar demikian. anda mendapatkan kutipan itu darimana? saya hanya diundang banjarmasinpost sebagai salah seorang narasumber dan menyampaikan pendapat dari perspektif hukum tata negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s