Berpuasa di Negara Berasaskan Islam, Rumah Makan Buka Seperti Biasa

Posted: September 5, 2008 in tulisanku di media

MALAYSIA dikenal sebagai salah satu negara yang mencantumkan Islam sebagai agama resmi negara (official religion) di dalam Konstitusi mereka.

M Rifqinizamy Karsayuda

M Rifqinizamy Karsayuda

Dalam artikel 3 (1) Konstitusi negara tersebut dinyatakan “Islam is the religion of the Federation; but other religions may be practised in peace and harmony in any part of the Federation” (Agama Islam adalah agama resmi bagi negara (federal); tetapi agama-agama lain dapat dijalankan dengan aman dan damai dimanapun bagian negara (federal)).

Penduduk Muslim di Malaysia di dominasi oleh etnik Melayu yang terdiri dari dua golongan; Melayu asli dan Melayu pendatang. Melayu asli adalah orang Melayu yang berasal dari Malaysia, sedangkan Melayu pendatang adalah orang-orang yang ‘dimelayukan’ dan beragama Islam, seperti pendatang dari Indonesia, baik etnik Jawa, Bugis, Banjar, Sunda dan lain-lain di luar etnik India dan Cina.

Latar belakang demikian membuat kehidupan beragama Islam di Malaysia relatif tidak seplural di negara kita. Perbedaan antar mazhab yang kontras tidak terlihat di negara ini. Hal ini dikarenakan, negara ‘selalu campur tangan’ dalam berbagai urusan keagamaan (Islam).

Sebagai contoh dalam pendirian rumah ibadah, baik masjid ataupun surau, merupakan otoritas pemerintah sepenuhnya. Pemerintahlah yang menentukan layak atau tidaknya suatu tempat memiliki rumah ibadah.

Hal yang mungkin sedikit berbeda dengan di tempat kita adalah semangat untuk mengikuti berbagai kegiatan Ramadan tersebut secara kolektif, sangat terasa di sini.

Di sebuah surau di Kota Shah Alam, Ibukota negara bagian Selangor, sekitar 25 km dari Kuala Lumpur misalnya, suasana berbuka puasa diikuti sekitar 100 orang setiap harinya.

Saat salat Isya dan Tarawih, lebih dari 1.000 orang jamaah memadati surau berukuran tak terlalu besar tapi memiliki fasilitas lengkap seperti AC, Kipas Angin, LCD dan lain-lain itu.

Yang lebih menggembirakan terjadi pada saat tadarus Alquran yang diadakan setelah salat tarawih yang diikuti sekitar 70 orang dan terbagi dalam tujuh kelompok setiap malamnya.

Soal perdebatan rakaat dalam salat tarawih, hampir tidak dijumpai disini. Pemerintah Malaysia mengimbau seluruh tempat ibadah untuk menyelenggarakan salat tarawih sebanyak 20 rakaat dan dilanjutkan dengan witir 3 rakaat.

Namun bagi mereka yang hendak mengikuti sampai rakaat kedelapan saja juga dipersilakan. Makanya di beberapa surau, setelah rakaat kedelapan banyak jamaah yang pulang, sedang yang hendak mengikuti 20 rakaat dipersilakan meneruskannya.

Di siang hari pada hari pertama dan kedua Ramadan suasana berjalan normal. Bahkan beberapa rumah makan buka seperti biasa. Hal ini yang paling membedakan dengan suasana Ramadan di banua kita yang telah menerapkan Perda Ramadan yang melarang dibukanyawarung makan, maupun makan dan minum di tempat umum pada siang hari Ramadan.

Hal ini terjadi, mungkin karena penduduk muslim di Malaysia relatif memiliki kontrol diri (self control) dan kontrol sosial (social control) yang baik dalam menjalankan agama. (M Rifqinizamy Karsayuda)

(Tulisan ini diambil dari Kolom Ramadhan Banjarmasin Post, 04 September 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s