Anakku…….

Posted: Agustus 14, 2008 in Tentangku
anakku

anakku

Tak terkira betapa kepalang bahagianya seorang ayah yang baru memiliki putra pertama. Itulah yang kurasakan pada 26 Juli 2008 lalu. Kebahagiaan itu seakan semakin bertambah, karena anak kami lahir pada pukul 13.40 Wib, padahal sedianya pukul 21.00 malam harinya aku harus bertolak ke Kuala Lumpur untuk memenuhi tanggung jawab akademikku, menyelesaikan studi Master di UKM.

Sampai dengan pagi hari sekitar pukul 10.00 pada 26 Juli 2008 itu, tak ada firasat kalau istriku akan melahirkan anak kami beberapa jam kemudian. Prediksi dokter memang sangat variatif tentang tanggal kelahiran anak kami. Dokter spesialis di Malaysia, tempat istriku rutin melakukan check mengatakan anak kami akan lahir sekitar tanggal 27 Juli sampai dengan 9 Agustus 2008. Begitu liburan ke Banjarmasin, dokter disana mengatakan persalinan anak kami akan terjadi pada 24 Juli 2008. Lain lagi dokter di Pontianak yang mengatakan persalinan itu akan terjadi pada tanggal 27 Juli 2008.

Berbagai analisa dokter yang sifatnya spekulatif itu, mendapat jawabnya pada tanggal 26 Juli 2008 itu. Tanggal yang seakan sangat kompromistis, sekaligus menjawab rentetan doaku dan istri, agar sebelum aku meninggalkan Indonesia, aku sempat melihat kelahiran putra kami yang pertama. Kebahagiaan-pun semakin bertambah, karena pada pukul 12.00 siang hari pada 26 Juli 2008 itu, Abahku datang dari Banjarmasin ke Pontianak. Niat beliau adalah ingin menghadiri kelahiran cucu pertamanya, dan jika memang aku tidak ada pada proses kelahiran itu, maka beliau akan mengadzankan, mengiqomahkan, serta membacakan beberapa doa dari Al-ur’an yang keluarga kami percayai baik dibacakan di awal-awal kelahiran seseorang ke dunia. Doa-doa itu biasanya dibacakan oleh ayah sang anak.

Detik-detik menjelang kelahiran itu, tidak seperti cerita banyak pihak, termasuk para bidan yang mengatakan proses kelahiran pertama berjalan cukup lama, sekitar 10 jam yang dimulai dari pembukaan 1 sampai 10. Proses kelahiran anak kami ini berjalan cukup singkat, dimulai dari sakitnya perut istriku pada pukul 10.00 pagi. Sakit di masa-masa awal itu dirasakan dengan biasa-bisa saja oleh istriku, bahkan pada pukul 11.00, kawan dekatnya yang datang ke rumah disambutnya dengan hangat dan riang, ciri khas istriku. Tidak ada tanda-tanda ia sedang merasakan sakit yang kepalang. Baru pada sekitar pukul 12.00 dia berkeringat dan tangannya gemetar kesakitan di dalam kamar. Akupun dimintanya memijat-mijat punggungnya. Dia pun ku minta untuk makan siang, namun ia menolak. Lalu kusodorkan mukenanya, kuminta ia sholat walau dalam keadaan yang payah ditempat tidur. Kataku,” walau hanya dengan kedipan mata, sholatlah dulu sayang, sembari memohon doa, agar semuanya lancar”.

Istrikupun melakukan ibadahnya, dimulai dengan tayamum, sebab ia merasa sulit untuk berjalan ke tempat wudhu. Setelah semua itu berjalan, keringatnya semakin menjadi. Akupun memutuskan untuk membawanya ke rumah bersalin yang berjarak tak seberapa jauh dari rumah mertuaku. Dengan keterbatasan alat transportasi di tempat mertuaku, ku putuskan untuk membawa istriku dengan sarana apa yang ada, yang penting cepat. Begitu aku keluar rumah, ada becak kosong yang sedang lewat. Kupanggillah mamang becak itu, sembari kuminta menunggu sebentar untuk mengantar istriku ke rumah bersalin.

Istrikupun menaiki becak bersama Kak Melani, Kakak Iparku dengan membawa pelbagai peralatan yang telah jauh-jauh hari disiapkannya. Akupun mengambil motor Vespa mertuaku menuju rumah bersalin itu bersama ibu mertuaku. Sesampainya ku diasana, istriku sudah dimasukkan ke dalam ruang persalinan. Lima menit berselang, seorang perawat yang mengenal ibu mertuaku, mengatakan semuanya baik-baik saja. Ia berjanji sekitar beberapa menit lagi akan memberitahukan sejauh mana perkembangan istriku, aku sempat menanyakan “sudah pembukaan berapa, Bu?”. Ia menjawab sebentar mas, saya lihat dulu.

Lama berselang, sekitar 10 menit berikutnya, perawat tadi keluar lagi. Ia menabur senyum dan mengatakan selamat atas kelahiran anak kami, seorang laki-laki dengan berat 2.67 kg dan panjang 49 cm dengan proses normal. Saat itu rasanya aku setengah tak percaya, karena telah menjadi ayah. Rasa setegah tak percaya itu, sebab proses persalinan itu sangat cepat menurutku. Rasa bahagia itu seakan meluap-luap, sebab di detik-detik sebelum keberangkatanku, putra kami lahir. Akupun seakan tak sabar melihat wajah putraku itu, begitu juga dengan keadaan istriku.

Sembari menunggu putraku dibersihkan, akupun mengambil air wudhu sebelum membacakan adzan dan iqomah di telinga kanan dan kirinya. Tak lama berselang, bapak mertuaku yang juga sudah berada di rumah bersalin itu menggendong anak kami keluar ruang persalinan. Beliau-pun memberikan anak kami dari gendongannya kepadaku. Sanubariku terus berdebar, disertai sedikit linangan air mata bahagia, ku letakkan anak kami itu di dalam gendonganku. Ku bacakan adzan dan iqomah di telinganya, kucium mesra kening dan kedua pipinya. Lalu kuserahkan anak itu kepada kakeknya (abahku) untuk membacakan beberapa ayat Al-Qur’an. Kuminta hal itu kepada beliau sebagai wujud penghormatanku kepada beliau.

obie beberapa saat setelah kelahirannya

obie beberapa saat setelah kelahirannya

Setelah proses itu, akupun merubah niat untuk pulang pada malam harinya. Aku segera mencari tiket pesawat keesokan harinya, dan segera kubatalkan tiket malam hari itu. Aku ingin menemami istriku di rumah bersalin malam harinya. Aku juga ingin melakukan tasmiyah (pemberian nama) kepada anak kami malam harinya. Dan kuberharap aku dapat bersama istri dan anakku pada pagi hari sebelum ku berangkat menuju airport. Alhamdulillah semua telah kulakukan sesuai rencana, memberi nama anak pada malam harinya sesuai dengan budaya Banjar kulakukan berdua saja dengan abahku. Kalimat Ya…Ghulam….samaituka…….dan seterusnya sampai dengan menyebut nama anak kami MUHAMMAD ALFATH ALFAROBY BIN MUHAMMAD RIFQINIZAMY mendebarkan nuraniku. Proses itu berjalan di ruang bayi, dengan izin khusus dari para perawat, sebab seharusnya kami baru boleh menjenguk anak kami keesokan harinya pada pukul 09.00.

Setelah itu, kutemani istriku tidur di rumah sakit. Kami sengaja memilih Kelas II dimana ada 3 kasur disana yang kami tahu tidak ada pasien lain yang sedang di rawat inap pasca melahirkan. Kedua kasur yang kosong itu dengan lapang kugunakan. Sampai larut malam kami berbincang-bincang banyak hal, utamanya tentang kelahiran anak kami. Kebahagiaan itu memang tidak dapat terlalu lama kurasakan sebab keesokan harinya kuharus meninggalkan mereka. Sebelum berangkat, kami sempat memanjakan permata hati kami. Satu hal yang membuatku amat bersyukur, pada detik-detik akhir menuju keberangkatanku, istriku terlihat sangat tegar. Padahal ia harus kutinggalkan dengan beban mengasuh anak kami sendirian.

Sampai saat ini sudah hampir 3 minggu perpisahan itu kulalui. Hanya deringan telpon yang meringankan rindu ini kepada kedua orang yang sangat kucintai. Kuakui agak berat bagiku untuk menjalani proses ini, tapi semua ini kuobati dengan memaksimalkan upaya penyelesaian tesis dan 1 mata kuliah sisa yang InsyaAllah kuselesaikan di semester ini.

obie dan mamanya

obie dan mamanya

Semoga Muhammad Alfath Alfaroby menjadi anak pembuka (alfath) di keluarga kami dengan akhlak, kepribadian, kepemimpinan dan semangat dakwah seperti Rasulullah Muhammad SAW dan diberikan kemampuan untuk menjadi pecinta ilmu layaknya Alfaroby, sang filsuf muslim di masa keemasan Islam yang kukagumi itu….Amiin.

Komentar
  1. Widiya Ayu Rekti mengatakan:

    Wah.. Selamat untuk kelahiran anak pertamanya pak..🙂

  2. M.Rifqinizamy Karsayuda mengatakan:

    Terimakasih Widya
    tolong doa semoga anak bapak pintar menulis juga seperti Widya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s