Agama Resmi Negara : Sebuah Studi Komparasi

Posted: April 24, 2008 in makalah/perjamuan ilmiah

agamaPendahuluan

Agama sangat erat kaitannya dengan kepercayaan yang dianut oleh seseorang dan/atau kelompok dalam suatu masyarakat. Agama bahkan menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dengan diri dan kelompok tertentu. Dalam konteks inilah agama melampaui batas-batas ideologi. Agama dapat melahirkan ideologi, namun sebaliknya ideologi tidak dapat melahirkan agama, sebab agama bukanlah rekaan manusia, melainkan turun atas wahyu dari yang maha kuasa, zat yang ghaib yang mengatur dunia dan seisinya.

Agama mengatur hubugan manusia dengan Tuhan dan manusia yang satu dengan manusia yang lain, baik yang berdemensi privat, maupun yang berdemensi publik[1]. Oleh beberapa kalangan, agama dipandang juga memiliki nilai-nilai yang mengatur hubungan individu dengan penguasa (negara)[2]. Singkatnya agama memberikan pengaturan berupa nilai-nilai dasar dalam kehidupan manusia secara holistic.

Realitas di beberapa negara dewasa ini, agama sedikit atau bayak telah mempengaruhi corak suatu negara, baik budaya masyarakat, bahkan pemerintahannya. Beberapa negara bahkan menjadikan agama sebagai dasar bagi jalannya negara, sebagai contoh Saudi Arabia yang menjadikan ajaran (hukum) Islam sebagai dasar dalam perundang-undangannya, begitupula dengan Iraq, Iran dan beberapa negara di Timur Tengah (Midle East) lainnya, Agama sebagai dasar negara dicantumkan dalam konstitusi.

K.C. Wheare mentakrifkankan konstitusi sebagai seluruh sistem ketatanegaraan suatu negara, kumpulan peraturan-peraturan yang mendasari dan mengatur atau mengarahkan pemerintahan. Peraturan-pereturan ini bersifat legal dalam arti berbentuk peraturan perundang-undangan tertulis dan lainnya bersifat ekstra legal, yang terdiri dari kebiasaan, persetujuan adat atau konvensi. Konstitusi hampir disepakati oleh para ahli sebagai hukum tertinggi dalam suatu negara. Pencantuman dasar hukum berdasarkan ajaran agama tertentu dalam konstitusi negara menjadikan agama sebagai hukum tertinggi[3].

Fenomena lain yang dapat kita saksikan saat ini adalah, beberapa negara secara nyata mencantumkan agama resmi negaranya (official religion) dalam konstitusi. Contoh yang paling mudah mengenai ini adalah Malaysia dan Brunei Darussalaam. Di Malaysia agama resmi negara adalah Islam, walaupun demikian konstitusi Malaysia tidak menyebutkan bahawa hukum Islam sama dengan hukum (undang-undang) negara. Hal ini berbeda dengan negara-negara seperti Arab Saudi dan lain-lain sebagaimana disebutkan diatas.

Pro dan kontra muncul atas pencantuman agama resmi negara dalam konstutusi. Kalangan yang kontra banyak mendalilkan bahawa negara hendaknya berdiri diatas semua kepentingan, termasuk diatas semua agama, bukan hanya satu agama. Pertanyaannya sesungguhnya, apakah dengan adanya agama resmi negara yang dicantumkan dalam konstitusi menjadikan negara tersebut diskriminatif dan membatasi kebebasan beragama (freedom of religion) atau sebaliknya?. Bagaimana pula yang terjadi pada negara-negara yang tidak mencantumkan agama resmi negara dalam konstitusi? Apakah secara otomatis memberikan guarantee perlakuan yang adil bagi semua umat beragama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut coba dikaji dalam tulisan singkat ini, dengan mengambil sampel Malaysia dan Indonesia. Secara kontras kedua negara ini berbeda dalam hal pencantuman agama resmi negara dalam konstitusi. Malaysia mencantumkannya, sedang Indonesia tidak. Namun dari sisi yang lain, kedua negara ini dikenal sebagai negara dengan jumlah masyarakat muslim yang sangat besar (majority). Ausrtalia ditampilkan juga dalam tulisan ini sebagai langgam yang amat berbeza, sebab di negara itu, tiada satupun agama yang diperizinkan berdasarkan Konstitusi Negara.

Melihat Malaysia

Dalam Perkara 3 (1) pelembagaan persekutuan (konstitusi) Malaysia disebutkan :

“ Agama Islam adalah agama resmi bagi perseketuan; tetapi agama-agama lain boleh diamalkan dengan aman dan damai dimana-mana bahagian persekutuan”

Dalam Perkara tersebut dapat dilihat bahawa walaupun Islam merupakan agama resmi di Malaysia, namun kerajaan Malaysia tidak menutup diri bagi lahirnya agama-agama lain, seperti Katolik, Protestan, dan Hindu yang banyak dianut oleh ras Cina dan India di negeri ini. Dalam Perkara 11 (1) Perlembagaan Persekutuan disebutkan: “Setiap orang mempunyai hak untuk menyatakan dan mengamalkan agamanya, tertakluk pada klausul (4) untuk menyebarkannya”.

Persoalan yang muncul adalah bagaimana jika terjadi perpindahan agama dari satu agama ke agama lain ? Apakah hal ini merupakan bahagian dari kebebasan beragama. Terdapat dua pendapat mengenai hal ini. Pertama: yang menyatakan bahawa Perkara 11(1) tentang kebebasan beragama termasuk juga kebebasan untuk berpindah agama. Pendapat ini dapat dilihat dalam kes Teoh Eng Huat v Kadhi of Paris Mas Kelantan & Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu, Kelantan [1986]2 MLJ 229. Hakim Abdul Malek mengatakan bahawa hak mengenai kebebesan beragama yang ada pada Perkara11 (1) termasuk juga hak untuk memilih agama[4].

Kedua : Pendapat yang menyatakan bahawa kebebasan beragama yang tertakluk pada Perkara 11 (1) tidak mengandung makna sebagai kebebasan untuk berpindah agama. Pendapat ini disampaikan oleh Hakim Suriyadi Halim Omar dalam kes Daud Mamat & Ors v Majlis Agama/Adat Istiadat Melayu, Kelantan & Kerajaan Negeri Kelantan [2001] 2 CLJ[5].

Sebagai agama resmi di Malaysia, hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam diatur dalam konstitusi, diantaranya :

  1. Raja merupakan Ketua Agama Islam disetiap negeri yang ia pimpin. Malaysia adalah negara yang menggunakan sistem federal, dimana setiap negara-negara bagian memiliki raja. (Perkara 3 (2)).
  2. Yang di Pertoan Agung atau raja bagi seluruh negeri di Malaysia yang dipilih secara bergantian dari raja-raja negeri yang ada merupakan Ketua agama Islam dalam wilayah-wilayah persekutuan Kualu Lumpur, Labuan dan Putrajaya dan bagi maksud ini Parlimen boleh dengan undang-undang membuat peruntukan-peruntukan bagi mengadakan peraturan mengenai hal ehwal agama Islam dan bagi menumbuhkan sesuatu Majlis untuk menasihatkan Yang diPertuan Agong mengenai perkara-perkara berhubung dengan agama Islam.( Perkara 3 (5)).

Latar belakang mengapa Islam menjadi agama resmi di Malaysia sesungguhnya dapat dilihat dari proses kemerdekaan negara ini yang menempatkan raja-raja di masa lalu sebagai negosiator pada saat menjelan kemerdekaan. Sebagaimana diketahui, proses kemerdekaan Malaysia melalui proses diplomasi dengan Inggris dan berlangsung secara damai. Para negosiator itu adalah didominasi para raja-raja yang memerintah negeri-negeri di Malaysia kala itu. Raja-raja beragama Islam dan berasal dari suku Melayu. Pemilihan nama negara menjadi Malaysia juga konon didasari atas hal tersebut, serta majoriti masyarakat Malaysia yang merupakan suku Melayu[6]. Di dunia internasional, Malaysia juga sangat identik dengan Melayu-nya, selain suku-suku Melayu lain yang juga didapati di Indonesia, Thailand, Philiphine, bahkan Australia sekalipun.

Islam dan melayu merupakan sesuatu yang tak dapat dipisahkan. Jika seseorang beragama Islam, belum tentu ia Melayu, namun jika ia Melayu, ia pasti Islam. Itulah tafsir Melayu yang ditegaskan dalam Perkara160 Konstitusi Malaysia sebagai berikut :

“ Melayu ertinya seseorang yang menganuti ugam Islam, lazim bercakap Melayu, menurut adat istiadat Melayu dan –

(a) lahir, sebelum Hari Merdeka, di Persekutuan atau di Singapura, atau ibu atau bapanya telah lahir di Persekutuan atau di Singapura, atau pada hari Merdeka itu, ia adalah berdomisili di Persekutuan atau Singapura;atau;

(b) ia adalah keturunan seseorang tersebut.

Melayu banyak sekali mendapat keistemewaan dan hak-hak istimewa (previlege) dalam konstitusi Malaysia. Hal tersebut dapat dilihat dalam beberapa pasal konstitusi tersebut, iaitu :

1. Bahasa kebangsaan ialah Bahasa Malaysia (Melayu) dan hendaklah ditulis dalam apa-apa tulisan sebagaimana yang diperuntukkan dengan undang-undang oleh Parlimen (Pasal Perkara (1)).

2. Yang diPertoan Agung sebagai kepala Negara memiliki tanggungjawab untuk memlihara kedudukan istimewa orang Melayu dan bumiputra (Perkara 153 (1)).

3. Yang diPertoan Agong juga berkewajiban untuk menjaga keistemewaan orang Melayu dalam hal jawatan dalam pengkhidmatan awam, keistimewaan dalam pelajaran, biasiswa dan kemudahan khas lain yang diadakan oleh Kerajaan untuk orang Melayu (Perkara 153 (2)).

4. Orang Melayu juga mendapat keistemewaan untuk mendapatkan permit atau lesen untuk menjalankan apa-apa tred atau perniagaan (Perkara 153 (6)).

Sebagai orang Melayu yang sudah pasti beragama Islam, berbagai keistemewaan tersebut juga merupakan keistemewaan bagi umat Islam, khasnya yang berasal dari ras Melayu. Untuk menjaga kedudukan agama Islam sebagai agama negara, maka diberikan hak kepada Majlis raja-raja untuk mempersetujui atau tidak mempesetujui supaya apa-apa perbuatan, amalan atau upacara agama meliputi seluruh Persekutuan (Perkara 38 (2)(b)).

Kuasa yang dimiliki majlis raja-raja yang notabene beragama Islam secara eksplisit (tersirat) berfungsi untuk menjaga kedudukan agama Islam di negeri ini. Pertanyaannya bagaimana dengan agama lain di Malaysia ?

Sebagaimana diketahui, Malaysia terdiri dari multietnics dan juga multi-agama. Tiga ras terbesar yang tinggal di Malaysia adalah ras Melayu, India dan Cina[7]. Melayu memeluk agama Islam, Cina memeluk agama Kong Hu chu atau Kristen dan India memeluk agama Hindu. Dalam keseharian dapat kita saksikan bahawa umat agama lain, selain Islam dapat menjalankan ritual dan ibadahnya secara bebas di Malaysia. Di pinggir-pinngir jalan dapat kita temukan banyak tempat ibadah agama lain, selain Islam, seperti Temple, gereja dan Kuil. Dalam ranah kepemimpinan publik, seorang Cina bahkan menjadi Menteri Besar di Penang dan beragama non-Islam[8].

Walaupun demikian beberapa persoalan juga terus muncul sebagai reaksi terhadap policy yang diatur dalam Konstitusi Malaysia yang menjadikan Islam sebagai agama resmi negara. Pada tahun 2006. A Vaithilingan, Ketua Hindu Sangan Malaysia yang mewakili lebih dari 1.000 kuil Hindu dan komunitasnya, mengatakan kelompok tersebut mengeluarkan permintaan itu pada pertemuan tahunan, Minggu. “Kami secara bulat mendukung bahawa pemerintah harus serius menangani hal ini dan agar konstitusi dilaksanakan,” kata Vaithilingan.

Konstitusi negara itu menegaskan kebebasan beragama bagi warga Malaysia, tetapi Hindu Sangan dan kelompok-kelompok agama minoritas lainnya mengatakan konservatisme mengikis hak-hak mereka. “Sangat sering pihak berwenang mengabaikan kebebasan beribadat,” kata Vaithilingan sebagaimana dimuat dalam Harian Kompas di Indonesia tanggal 03 July 2006.

Statement yang dikeluarkan oleh Vaithilingan dilatarbelakangi oleh kematian M. Moorthy, pahlawan pendaki gunung etnis India yang dimakamkan sebagai seorang Muslim walau ada protes dari istrinya yang Hindu, yang mengatakan suaminya itu tidak pernah berpindah agama. Moorthy ditetapkan sebagai seorang Muslim dalam sebuah Pengadilan agama atau syariah, di mana sang istri tidak berhak bicara sebagai non-Muslim[9].

Dalam sebuah situs, Encik Hermen Shastri, setiausaha eksekutif Persekutuan Gereja Malaysia mengatakan bahawa gereja menghimbau ummat kristen untuk memilih (mengundi) calon yang menyokong kebebasan beragama pada pilihan raya yang akan digelar pada 08 March 2008 ini. Imbauan Hermen tersebut didasarkan bahawa adanya kebimbangan dari kalangan minority atas semangat pengembangan Islam yang dilancarkan pihak kerajaan dibawah pimpinan Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi.[10] Reaksi-reaksi semacam inilah (mungkin) yang juga turut menjatuhkan perolehan kursi Barisan Nasional (BN) di beberapa parlemen negeri dan parlemen negara pada Pilihan Raya Umum 8 March 2008 yang lalu.

Fenomena (Phenomena) di Indonesia

Indonesia adalah negara dengan luas wilayah dan masyarakat terbesar di ASEAN. Masyarakat Indonesia terdiri dari ratusan suku-bangsa, bahkan ribuan sub suku bangsa yang mendiami ribuan pulau di negara dengan bentuk republik ini. Dengan latar belakang multietnik dan agama itulah Indonesia didesain oleh the founding fathers sebagai negara yang berdiri atas kepentingan semua etnis dan agama. Indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki makna Walaupun berbeda-beda (suku, agama, warna kulit, adat istiadat dan lain-lain), tetapi tetap dalam satu kesatuan.

Masalah agama merupakan persoalan yang sejak dari awal Indonesia merdeka pada tahun 1945 menjadi perdebatan yang sengit diantara the founding fathers. Pada tanggal 22 Juni 1945 digelar sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang pertama untuk membahas dasar negara Indonesia kelak setelah merdeka. Pembahasan tersebut dilakukan oleh panitian sembilan yang beranggotakan Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, H.A. Salim, Achmad Subardjo, Wahid Hasjim, dan Muhammad Yamin. Panitia sembilan berhasil merumuskan dasar-dasar negara yang berisi lima point (lima sila) yang kemudian disebut Pancasila, iaitu :

  1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Namun setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, BPUPKI kembali menggelar sidang kedua dimana salah satunya mensahkan rancangan konstitusi yang telah dibuat sebelumnya menjadi konstitusi resmi negara. Hal yang sangat mengejutkan pada saat itu ialah dirubahnya isi poin pertama dasar negara yang berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan digantikan dengan poin yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dalam catatan sejarah, perubahan tersebut dilakukan oleh Mohammad Hatta yang kemudian menjadi Wakil (Timbalan) Presiden Pertama Indonesia setelah mendengar usul dari A.A.Maramis (satu-satunya anggota panitia sembilan yang beragama kristen) setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo[11].

Latar belakang politis (political background) yang sering dikemukakan dalam berbagai tulisan atas perubahan bunyi poin (sila) pertama tersebut adalah adanya ancaman dari A.A.Maramis yang mewakili masyarakat Indonesia dari wilayah Timur dan beragama kristen untuk memisahkan diri dari Indonesia, jika poin pertama yang berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” tidak dihapuskan atau diganti.

Hal itulah yang melatarbelakangi, mengapa hingga saat ini[12] Indonesia tidak memiliki agama resmi negara, kendati di Indonesia kebebasan beragama di atur dalam konstitusinya (UUD 1945). Dalam pasal 29 UUD 1945 disebutkan ;

(1). Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

(2). Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap masyarakat untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu.

Namun dalam prakteknya, di Indonesia ummat Islam sebagai masyarakat majoriti memiliki berbagai keistemewaan antara lain.

Pertama : Dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tertentu dibidang hukum, masyarakat yang beragama Islam diberikan perlindungan hukum dan penyelesaian sesuai dengan hukum Islam. Hal ini seiring dengan adanya lembaga peradilan di Indonesia bernama Pengadilan Agama. Dalam pasal 49 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 3 tahun 2006 Tentang Peradilan Agama disebutkan bahawa ;

Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:

a. perkawinan;

b. waris;

c. wasiat;

d. hibah;

e. wakaf;

f. zakat;

g. infaq;

h. shadaqah; dan

i. ekonomi syari’ah.

Apabila para pihak tidak berpuas dengan putusan yang dibuat oleh Pengadilan Agama, maka mereka dapat mengajukan gugatan (petition) kepada Pengadilan Tinggi Agama yang berada disetiap Bandar Utama Provinsi-provinsi yang ada di Indonesia. Di tingkat paling tinggi terdapat Mahkamah Agung yang memutuskan dan memeriksa perkara pada tingkat terakhir.

Kedua : Dalam hal pelaksanaan dan pencatatan perkawinan hanya masyarakat yang beragama Islam yang memiliki pelayanan khas melalui Kantor Urusan Agama (KUA). KUA merupakan institusi yang khas dipersiapkan oleh pemerintah Indonesia untuk menangani pentadbiran pernikahan (perkawinan) bagi orang yang beragama Islam di Indonesia. KUA didirikan di setiap kecamatan yang ada di Indonesia. Sedangkan umat agama lain (selain Islam) mencatatkan perkawinannya di Kantor Catatan Sipil yang berada di setiap kabupaten[13].

Ketiga : Pemerintah Indonesia melalui Kementrian (Departemen) Agama memiliki tugas melaksanakan dan mengurus seluruh hal yang berkaitan dengan ibadah Haji. Haji adalah ibadah wajib umat Islam Islam sebagaimana termaktub dalam rukun Islam. Ummat Islam di Indonesia difasilitasi dan diataur oleh negara dalam melaksanakan ibadah tersebut. Hal ini berbeda dengan umat agama lain, selain Islam yang tidak difasilitasi dalam menjalankan perjalanan ibadahnya, seperti ziarah ummat kristen ke Vatikan dan lain-lain.

Keempat : Saat ini setelah diterapkan otonomi daerah, beberapa daerah membuat peraturan daerah (perda)[14] yang mengatur tentang perilaku kehidupan seorang, sekaligus memberikan perlindugan kepada mereka. Sebagai contoh Perda Kabupaten Banjar No.4 tahun 2005 tentang Kewajiban Pandai Baca Tulis Al-Quran bagi siswa/siswi SD/MI sederajat dan Perda Kota Banjarmasin No.6 Tahun 2004 tentang larangan Minuman Keras (Miras) di Kota Banjarmasin.[15]

Kelima : Polisi (policy) pemerintah Indonesia untuk memberikan hari libur (cuti) bersama pada hari-hari besar agama Islam, seperti libur pada saat Bulan Ramadhan yang dilaksanakan satu bulan penuh, serta libur untuk Idul Fitri yang dilaksanakan lebih dari satu minggu. Hal ini tidak didapati pada hari besar agama lain, seperti Natal, Nyepi dan lainnya. Libur pada hari-hari tersebut terbatas pada hari pelaksanaan hari raya-nya.

Keenam : Adanya institusi bernama Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berada mulai dari tingkat pusat, provinsi sampai ke tingkat kabupaten/kota. MUI memeiliki kekuasaan untuk membuat fatwa. Fatwa MUI yang mengikat, bukan hanya untuk umat Islam, melainkan juga umat non-muslim adalah fatwa halal atau haram suatu produk makanan dan/atau minuman yang diproduksi di Indonesia. Fatwa tersebut merupakan syarat yang wajib dipenuhi bagi setiap perusahaan (syarikat) yang ingin menjual produknya di Indonesia. Fatwa MUI ini dimaksudkan untuk memberi proteksi kepada umat Islam agar mendapatkan makana dan/atau minuman yang halal di pasar (market) Indonesia.

Sekilas Kebebasan Beragama di Australia

Sebelum masuknya agama Kristen ke Australia melalui Europian Settlement tahun 1788, masyarakat asli (aborigin) Australia tidak memiliki agama. Menurut beberapa catatan, kaum aborigin pada saat ini memiliki kepercayaan terhadap alam semesta yang dicirikan melalui pelbagai upacara-upacara adat. kaus aborigin sangat terilhami oleh Dreamtime. Kehidupan mereka sehari-hari dipengaruhi oleh mimpi-mimpi (mitos) yang diperkenalkan jauh-jauh hari oleh pendahulunya. Mitos mengenai Rainbow Serpent adalah mitos yang sangat populer disamping mitos mengenai Yuwie dan Bunyip.

Masuknya agama Kristen ke Australia sangat cepat menyebar seiring dengan adanya migrasi (perpindahan) besar-besaran orang-orang Eropa ke Benua ini. Sampai dengan sekarang, jumlah penganut agama kristen adalah yang terbanyak (hampir 70%) di Australia. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini :

Top Religious Affiliation in Australia, 2001-2006

2006

2001

% change
(relative)

% change
(absolute)

Number

%

Number

%

Roman Catholic

5,126,884

25.8

5,001,624

26.6

-0.8

+2.5

Anglican

3,718,241

18.7

3,881,162

20.7

-2.0

-4.2

Uniting Church in Australia

1,135,417

5.7

1,248,674

6.7

-1.0

-9.1

Presbyterian and Reformed

596,672

3.0

637,530

3.4

-0.4

-6.4

Orthodox

544,161

2.7

529,444

2.8

-0.1

+2.8

Baptist

316,744

1.6

309,205

1.6

0

+2.4

Lutheran

251,107

1.3

250,365

1.3

0

+0.3

Pentecostal

219,687

1.1

194,592

1.0

+0.1

+12.9

– Other Protestant

736,012

3.7

675,422

3.6

+0.1

+9.0

Oriental Orthodox

40,904

0.2

36,324

0.2

0

+12.6

Total Christian

12,685,829

63.9

12,764,342

68.0

-4.1

-0.6

Buddhist

418,749

2.1

357,813

1.9

+0.2

+17.0

Muslim

340,394

1.7

281,578

1.5

+0.2

+20.9

Hindu

148,130

0.7

95,473

0.5

+0.2

+55.2

Jewish

88,832

0.4

83,993

0.4

0

+5.8

– Other Religions

242,847

1.2

92,369

0.5

+0.7

+162.9

– No Religions

3,706,550

18.7

2,905,993

15.5

+3.2

+27.5

– Not stated/inadequately described

2,223,957

11.2

2,187,688

11.7

-0.5

+1.7

Total Population

19,855,288

100.0

18,769,249

100.0

0

+5.8

Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Australia diakses pada 15 March 2008

Dari tabel tersebut dapat dilihat, kaum kristen sebagai majoriti walaupun mereka terbagi lagi atas beberapa ajaran kristen, seperti kristen roman catholic, angilan, orthodox dan lain lagi. Majoriti agama masyarakat Australia yang kristen ini juga mempengaruhi agama kaum lain, termasuk kaum Aborigin. Berdasarkan Cencus Tahun 1996 lebih dari 72% kaum Aborigin memeluk agama kristen dan hanya 16% yang mempertahankan kepercayaan tradisionalnya. Tahun 2001 diadakan lagi Cencus, hasilnya hanya 5,244 respondent atau tidak lebih dari 0,033% dari masyarakat Australia yang menyatakan bahawa mereka masih mempertahankan kepercayaan Aboriginnya.

Secara konstitusional, Australia telah menyatakan bahawa negaranya tidaklah mengakui satupun agama. Pasal 116 Konstitusi Australia menyatakan :

The Commonwealth of Australia shall not make any law establishing any religion, or for imposing any religious observance, or for prohibiting the free exercise of any religion, and no religious test shall be required as a qualification for any office or public trust under the Commonwealth.

Tahun 1983, Hight Court of Australia mentakrifkankan agama sebagai “a complex of beliefs and practices which point to a set of values and an understanding of the meaning of existence”[16].

Dalam kaitannya dengan kebebasan beragama, sebuah institusi bernama The Human Rights and Equal Opportunity Commission (HREOC) setelah melihat article 18 dari International Covenant on Civil and Political Rights pada tahun 1998 menyatakan : “despite the legal protections that apply in different jurisdictions, many Australians suffer discrimination on the basis of religious belief or non-belief, including members of both mainstream and non-mainstream religions, and those of no religious persuasion.

Pernyataan HREOC tersebut diperkuat dengan adanya fakta dari sebuah penelitian yang mereka lakukan dalam isu diskriminasi ini, terutama diskriminasi terhadap kaum Arab dan ummat Islam lainnya di Australia, HREOC memaparkan fakta tentang IsmaU Project[17], sebuah projek penelitian (research project) yang menghasilkan data adanya prejudice terhadap kaum Muslim di Australia sejak terjadinya peristiwa 11 September di USA dan bom di Bali, Indonesia.

Dalam beberapa kes yang sempat dibawa kepada Pengadilan juga dapat dilihat bahawa Pemerintahan Australia juga menerapkan polisi yang diskriminasi terhadap ummat agama lain, selain kristen yang menjadi majoriti di negara tersebut. Sebut sahaja kes AG [Vic] [exrel black v commonwealth] (1981) 146 CLR 554. Kes ini berkaitan dengan pasal 116 Konstitusi Australia yang menyatakan tidak ada agama yang diakui, namun parlimen commonwealth justru membuat ordonansi yang isinya memberikan bantuan kewangan (dana) kepada sekolah-sekolah kristen.

Penutup

Dari tulisan singkat ini dapat disimpulkan bahawa agama yang dianut oleh majoriti masyarakat di suatu negara akan mempengaruhi polisi (policy) masing-masing negara dan hal tersebut berpengaruh pada adanya perlakuan istimewa terhadap pemeluk agama majoriti di negara-negara tersebut. Hal ini terjadi pada negara yang tidak memiliki agama resmi negara, seperti Indonesia, terlebih yang memiliki agama resmi seperti Malaysia. Bahkan Australia yang dalam konstitusinya terlihat sangat sekuler, namun dalam prakteknya juga menerapkan polisi yang diskriminatif yang mendukung kaum agama tertentu (dalam konteks ini ialah agama kristen) yang menjadi majoriti di negara tersebut.

Agama sebagai sebuah kepercayaan (believe) secara sadar atau tidak, telah mampu mempengaruhi polisi sebuah negara. Dengan demikian adalah benar bahawa agama sangat berpengaruh terhadap psikology manusia, termasuk para pemimpin negara yang kemudian menjadi orang-orang yang menentukan arah dan polisi negara. Namun demikian, polisi yang dibuat hendaklah tidak mendiskriminasikan agama-agama lain, terlebih hal ini berlaku pada negara dimana tidak ada agama resmi dalam Konstitusinya.Wallahu’alam.

Bibliografi

· www.yusril.com


[1] Dalam ajaran agama Islam hubungan antara manusia dengan manusia yang bersifat privat dikenal dengan muamalah, hal ini terkait dengan pelbagai hal seperti hutang piutang, perjanjian, perkawinan, perceraian dan lain-lain. Sedangkan hubungan antar individu yang bersifat publik dalam Islam dapat dilihat dari Jinayah dan Siyasah.

[2] Hizbut At-Thahrir adalah kelompok yang mempercayai pemikiran ini. kelompok ini memperjuangkan adanya Khilafah bagi Ummat Islam sekarang ini.

[3] K.C.Wheare, Modern Constitutions (edisi terjemahan), Pusata Eureka, Surabaya, 2003, hlm 1.

[4] Abdul Aziz Bari and Faridd Sufian Shuaib, Constitution of Malaysia ; Text and Comentary Second Edition, Pearson, Malaysia, p 39

[5] Ibid

[6] Barbara Watson and Leonard Y.Andya, A History of Malaya, Palprave Publisher Ltd, China, 2000, p 290

[7] Masyarakat Malaysia yang 26 juta jiwa itu sekitar 60 peratus Melayu Muslim, dengan India Hindu sejumlah 8 peratus dan sisanya sebagian besar etnis China

[8] Catatan sebelum dilakukan Pilihan Raya Umum 8 March 2008

[9] http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A2139_0_3_0_M diakses pada tanggal 24 Pebruari 2008. Kasus lain yang sangat populer adalah kasus Lina Joy atau nama Islamnya Azlina Jailani merupakan wanita Melayu yang berumur 42 tahun tetapi kini mengaku telah murtad (keluar dari agama Islam) dan memeluk agama Kristian Katolik. Lantaran itu beliau cuba menggugurkan perkataan Islam daripada kad pengenalan MyKad yang dimilikinya. Rayuan dan permohonannya dibuat dengan mengenepikan kuasa Pengadilan syariah, tetapi secara lansung melalui proses undang-undang sivil. Pada mulanya beliau ke Pengadilan Tinggi, kemudian ke Pengadilan Rayuan, seterusnya ke Pengadilan Syariah dan Jabatan Pendaftaran Negara (JPN). Isu murtad merupakan subjek yang sensitif bagi orang Melayu yang hampir 100 % menganut agama Islam di Malaysia Kebolehpercayaan kerajaan boleh disalahtafsir jika gagal menangani isu-isu sebegini dan boleh mencetuskan rusuhan sebagaimana Tragedi Natrah di Singapura tahun 1950 dahulu. diambil dari http://ms.wikipedia.org/wiki/Lina_Joy

[11] Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Piagam_Jakarta diakses pada tanggal 24hb Pebruari 2008.

[12] Perjuangan untuk mengembalikan Piagam Jakarta dilakukan oleh beberapa kalangan, terutama setelah jatuhnya Presiden Soeharto (reformasi). Partai Politik yang konsisten mengangkat isue ini adalah Partai Bulan Bintang (PBB) yang diketuai Yusril Ihza Mahendra, seorang profesor undang-undang perlembagaan pada Universitas Indonesia. Namun Partai ini tidak memiliki suara yang cukup untuk melakukan amandemen konstitusi, terlebih tidak didukung oleh partai-partai lainnya. Lihat profilnya dalam www.yusril.com

[13] Indonesia merupakan negara kesatuan (unity state) yang berbentuk republik yang terdiri dari wilayah-wilayah provinsi dimana setiap provinsi terbagi atas wilayah-wilayah kabupaten/kota yang kemudian wilayah tersebut terbagi-bagi lagi menjadi wilayah-wilayah bernama kecamatan. Pasal 18 UUD Republik Indonesia 1945 (konstitusi Indonsia).

[14] Peraturan daerah adalah salah satu bentuk paraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Peraturan daerah dibuat oleh pemerintah provinsi dan/atau kabupaten/kota yang berlaku hanya pada wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota tersebut. Undang-Undang (akta-Mly) yang mengatur tentang kedudukan Perda adalah UU (akta) No.10 Tahun 2004 dan UU No.32 Tahun 2004

[15] Untuk mengetahui lebih jauh tentang Perda Syariah dapat dibaca M.Rifqinizamy, Kedudukan Peraturan Daerah (Perda) Syariah di Kalimantan Selatan dari Perspektif Hukum Tata Negara, makalah yang dipersiapkan pada Seminar Serantau “Perkembangan Islam di Borneo” yang diselenggarakan oleh Universiti Tekhnologi Mara (UiTM) Kota Samarahan, Kuching, Sarawak, Malaysia pada tanggal 27-28 Pebruari 2008 dalam http://www.rifq1.wordpress.com

[16] Diakses dari http://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Australia pada 15hb march 2008

[17] IsmaU Project dilakukan oleh HREOC untuk melihat beberapa hal, iaitu : !) bagaimana kebiasaan orang-orang Muslim dan Arab yang berada di Australia, Apakah terdapat indikasi terorisme atau tidak? dan 2) bagaimana orang-orang muslim tersebut menanggapi adanya diskrimasi terhadap mereka setelah terjadinya serangan 11 September dan Bom Bali. Dalam rekomendasinya HREOC merekomendasikan beberapa hal untuk menghilangkan diskriminasi tersebut di Australia ,iaitu : improving legal protections; promoting positive public awareness through education; addressing stereotypes and misinformation in public debate; ensuring community safety through law enforcement; empowering communities and fostering public support and solidarity with Arab and Muslim Australians.

Lihat dalam http://www.hreoc.gov.au/racial_discrimination/isma/report/pdf/exec_summary.pdf diakses terakhir pada 15hb March 2008.

Komentar
  1. ramziati mengatakan:

    salam kenal,

    saya ramzi, pelajar FUU ukm. saya tertarik membaca tulian anda terutama mengenai pemegang saham minoriti.
    bila ada masa bolehlah sharing.

    terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s