HADE dam Masa Depan Kaum Muda

Posted: April 17, 2008 in tulisan lepas

M.Rifqinizamy Karsayuda*

adilPemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di Jawa Barat memang sangat menarik perhatian banyak pihak, termasuk saya yang intens mengamatinya dari situs-situs internet dalam satu bulan terakhir. Pilgub Jabar menarik dikarenakan beberapa faktor, seperti besarnya jumlah pemilih di Jabar yang menurut data KPUD setempat berjumlah 2,7 juta pemilih, diversifikasi pemilih berdasarkan suku, agama bahkan ideologi dan yang terakhir munculnya calon gubernur dan wakil gubernur dari latar belakang yang cukup beragam, serta munculnya pasangan muda yang direfresentasikan oleh pasangan Ahmad Hermawan dan Dede Yusuf (HADE). Pilgub Jabar dengan besarnya jumlah pemilih tersebut sedikit banyak akan menjadi parameter bagi pemilihan umum legislatif, maupun presiden pada 2009 yang akan datang.

Pada saat saya menuliskan artikel ini, pasangan HADE memenangi perolehan suara hasil perhitungan cepat yang dilakukan oleh beberpa lembaga survey, termasuk KPUD Jabar sendiri yang belum rampung perhitungannya. HADE meraih rata-rata suara 39% berbanding dengan pasangan Agum dan Nukman 35%, serta pasangan Dani dan Iwan yang meraih 25% suara. Kemenangan HADE konon telah diperdiksi oleh Tim sukses keduanya yang terdiri dari PAN dan PKS. Beberapa hari sebelum pemilihan, Tim Sukses HADE menargetkan dapat memperoleh 38% suara pemilih di Jabar. Namun demikian, beberapa kalangan termasuk beberapa lembaga survey dan pakar politik tidak menyangka kalau HADE akan memenangkan Pilkada ini, Mereka memprediksikan pasangan Agum-Nu’man sebagai pemenang.

Tren Baru

Kemenangan HADE harus diakui sebagai sebuah tren baru dalam ranah politik lokal di Indonesia. Hal ini terkait dengan beberapa hal. Pertama : Kemenangan Hade sebagai refresentasi kaum muda dan mereka yang belum pernah duduk di pemerintahan. Sebagai refresentasi kalangan muda, penerimaan masyarakat Jabar terhadap kedua calon ini sangat menarik. Hal ini seakan ingin mematahkan adanya patronese politik yang selama ini melekat pada masyarakat kita. Selama ini, kalangan muda dipandang sebelah mata, beberapa kalangan bahkan menolak beberapa calon pemimpin hanya karena alasan yang bersangkutan berusia relatif muda. Muda selama ini identik dengan minimnya kemampuan yang biasanya dilegitimasi dengan dalil pendeknya pengalaman. Dalam konteks pemilihan kepala daerah, kaum muda biasanya diidentikkan dengan minimnya (bahkan nihil) pengalaman mereka di pemerintahan. Dalam debat publik Pilgub Jabar di salah satu stasiun TV Nasional, cagub Jabar Iwan Sulanjana dengan agak tegas menyindir pasangan HADE dengan perkataan “ Bagaimana kita bisa bekerja, kalau kita tidak tahu apa yang akan kita kerjakan”. Kendati demikian, dalam konteks Jabar, nyatanya asumsi publik justru berkebalikan. Pasangan muda justru dimaknai sebagai pasangan yang miskin (bahkan nihil) dosa “hitam” birokrasi yang sedang terselimut berbagai praktek KKN, sekaligus harapan baru bagi rakyat untuk menata ulang birokrasi tersebut.

Kedua : Tren lain yang ditunjukkan dari kemenangan HADE ialah, partai politk yang mendukung keduanya, PAN dan PKS bekerja secara optimal. Kerja politik PKS dalam beberapa Pilkada memang terlihat sangat serius, bahkan di DKI ketika mereka dikeroyok partai lainnya, PKS masih mampu menghantarkan suara Adang-Dani menembus 40%. Kendati demikian, Pilgub ini adalah Pilgub pertama yang dimenangkan oleh PKS yang berduet dengan PAN. PKS dan PAN adalah dua partai yang relatif tidak dibesarkan dengan budaya patronase yang berpusat pada ketokohan Ketua Umum atau Pembinanya. Kedua partai ini lebih dapat dikatagorikan sebagai partai kader. Dalam konteks PKS utamanya, kader-kadernya didominasi kalangan muda. PKS di masa-masa tumbuhnya justru mengandalkan basis-basis gerakan dakwah di kampus. Kemenangan HADE ingin memberikan sinyal bahwa partai berbasis kader yang dikelola secara serius lambat laun akan menjadi kekuatan besar yang mengalahkan patronase dan tren politik lama. Partai politik berbasis kader adalah tren sekaligus ciri partai politik modern.

Ketiga : Unggulnya pasangan HADE juga memberi isyarat bahwa pemimpin yang berasal dari birokrat dan TNI mulai ditinggalkan masyarakat. Selama puluhan tahun, utamanya di era orde baru, kedua posisi ini menjadi tulang punggung pemerintahan kita. Birokrat dan TNI dalam Pilkada Jabar direfresentasikan oleh Dany-Iwan, maupun Agum-Nu’man. Masyarakat nampaknya menaruh harapan kepada kepemimpinan sipil. Salah satu hal yang menyebabkan “ditinggalkannya” birokrat dan TNI adalah tingginya image korupsi di dua ranah itu. Birokrasi misalnya telah menjadi public opini sarangnya korupsi melalui berbagai proses penyelenggaraan proyek di pemerintahan, baik pusat maupun daerah. Di tubuh TNI, bisnis TNI yang menggurita puluhan tahun belum dapat ditata dengan baik, sehingga membuat citra keduanya menurun di publik.

Kendati demikian, unggulnya HADE dan mungkin akan terpilih dalam Pilkada Jabar juga menitipkan PR besar bagi kaum muda yang belakangan sangat bersemangat mengusung isu suksesi estafeta kepemimpinan nasional. HADE sebagai refresentasi kaum muda harus dapat membuktikan bahwa kepemimpinannya kelak lebih inovatif, dinamis dan progresif dalam membangun Jabar. Sebab sukses HADE adalah sekaligus harapan bagi kaum muda untuk memimpin bangsa ini, sekaligus harapan bai perbaikan bangsa…Semoga

*M.Rifqinizamy Karsayuda, Aktivis, Ketua Departemen Kaderisasi ICMI Muda Kalsel

Komentar
  1. arifiani mengatakan:

    kayaknya perlu banyak belajar jua nah sama situ yang sudah sampai ke Malaysia.

  2. jend fahri mengatakan:

    Menanggapi semakin berkembangnya wacana perlunya penyegaran kepemimpinan nasional saat ini,dengan memunculkan isu kaum muda dalam bursa kepemimpinan nasional untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dari para pemimpin tua yang sudah dianggap gagal membawa bangsa ini ke arah yang di cita-citakan saya koq beranggapan justru semakin mengarah kepada dikotomi antara golongan tua dengan golongan muda.seperti yang terjadi selama ini, misal kita selalu terjebak ke dalam pendikotomian antara sipil-militer.saya sepakat dengan klasifikasi yang diberikan oleh pak Amien Rais yang menjelaskan bahwa umur ideal seorang pemimpin itu adalah 40-50 tahun.menurut beliau jika terlalu muda dikhawatirkan akan grusa-grusu,demikian pula apabila terlalu tua justru akan pikun serta tidak lagi peka terhadap persoalan yang sedang dihadapi rakyatnya.tetapi yang perlu di ingat kelahiran seorang pemimpin idaman itu bukan karena didorong-dorong atau malah di karbit oleh orang-orang disekitarnya, tetapi lahir dari seleksi alam dan iklim kompetisi yang sehat, baik kompetisi antar sesama kaum muda itu sendiri maupun kompetisi dengan para kaum tua.siapapun orang nya baik itu tua maupun muda,sipil atau militer asalkan dia mampu membawa bangsa ini keluar dari krisis multi dimensi yang sudah hampir sepuluh tahun ini mencengkeram kita,maka dia lah yang pantas untuk menjadi pemimpin idaman bangsa Indonesia.kaya pa bang komentar sorang hehe..tolong ditanggapiakan….

  3. M.Rifqinizamy Karsayuda mengatakan:

    Jenderal Fahri….

    Sepakat bahwa kepemimpinan nasional, maupun lokal kedepan harus memiliki kata kunci capability, capasity, integrity dan accesable. Siapapun orangnya, tua atau pun muda.
    Namun, secara psikologis, kaum muda (dalam pengertian usia dan visi pembaharuannya) diharapkan dapat menampilkan kepemimpinan yang lebih progressif, dinamis, sekaligus visioner dan bersih.
    Tidak sedikit kaum muda yang memiliki kapasitas itu, hanya saja detik ini patronase politik, termasuk asumsi masyarakat masih meragukan kepemimpinan kaum uda dengan alasan miskin pengalaman.
    Dalam konteks berdemokrasi kita sekarang, siapapun dapat dikarbit menjadi pemimpin. Dan ingat politik (lebih sering) ditentukan hanya dalam satu malam, satu momentum tertentu. SBY lahir sebagai presiden bukan dirancang 4-5 tahun sebelumnya, tapi hanya beberapa detik sebelum pemilihan. Begitupula beberapa pemimpin di daerah.
    Jika begitu teorinya, apakah masih relevan membicarakan pemimpin yang “diuji” oleh alam sekitar sebagaimana statement saudara?…….
    Ala kulli hal, berikanlah kesempatan kepada kaum muda untuk membuktikan gunungan cita2nya membangun bangsa, termasuk banua…Setelah itu terjadi baru kita boleh berkesimpulan….
    Jika Fahri masih percaya akan masa depan bangsa dan banua, maka percayalah pada kemampuan kepemimpinan kaum muda yang cerdas, responsif, dinamis dan InsyaAllah bersih dari dosa-dosa masa lalu, kini dan akan datang

  4. jend fahri mengatakan:

    Bang Rifq1…,

    Saya juga sangat sepakat dengan pendapat abang mengenai penilaian secara psikologis,kaum muda dapat menampilkan kepemimpinan yang lebih progressif,dinamis,visioner dan bersih.namun dalam balasan komentar abang tidak menyebutkan angka pasti berapa umur kaum muda yang pantas untuk di jadikan pemimpin?apakah abang setuju dengan umur ideal pemimpin sebagaimana yang disebutkan oleh Pak Amien Rais,yakni 40-50 dengan alasan-alasan beliau yeng telah diberikan sebelumnya?sebagai perbandingan pemimpin yang ideal menurut Pak Amien adalah minimal umur 40 tahun,begitu pula dengan Nabi Besar kita Rasulullah Muhammad S.A.W ketika pertama kali beliau menerima wahyu pertama adalah ketika beliau berumur 40 tahun.ini artinya, Nabi Muhammad S.A.W saja sebagai pemimpin besar kita baru di angkat sebagai Rasul ketika beliau berumur 40 tahun oleh Allah S.W.T,apakah yang demikian ini tidak dijadikan pertimbangan oleh kita ketika memilih seorang pemimpin.ntar bang kita sambung,sorang ditunggu bos doyok hehehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s