Pemimpin ala Warung Kopi

Posted: Februari 15, 2008 in tulisanku di media

kopiMemimpin adalah suatu hal yang mudah diucapkan dan dibaca dalam berbagai referensi, namun demikian kepemimpinan banyak menimbulkan masalah bagi banyak orang, tak terkecuali bagi mereka yang “terlanjur” menjadi pemimpin. Setidaknya itulah yang dapat kita lihat dalam berbagai fenomena kepemimpinan dalam berbagai skala, baik lokal, regional, nasional bahkan internasional.

Seorang pakar pernah mengeluarkan satu teori yang menarik perihal kepemimpinan ini. Menurutnya, pemimpin terbagi atas dua tipologi, yaitu pemimpin yang responsible dan pemimpin yang responsive.

Dalam pandangannya, seorang pemimpin haruslah memiliki tanggung jawab (responsibility) atas berbagai hal yang menjadi kewenangannya. Implementasi dari tanggung jawab tersebut mensyaratkan seorang pemimpin harus memiliki visi, misi dan kerangka kerja yang jelas dalam mengawal kepemimpinannya. Dalam kontek kepemimpinan publik, seorang pemimpin tidak selayaknya “maju” memimpin hanya dengan modal “keinginan” kuat untuk menjadi penguasa. Inilah mungkin tafsir dari pemimpin yang responsible. Pemimpin demikian tentu tak hanya bermodalkan berbagai dukungan yang mengalir kepadanya, namun dukungan itu juga harus berkorelasi dengan kemampuan yang ia miliki.

Seorang yang arif akan menakar dukungan yang ada padanya dengan kapasitas dirinya. Merenungkan kepemimpinan model demikian, saya teringat tulisan ringan dr.Pribakti beberapa saat menjelang Pilkada 2005 di provinsi ini. Sang dokter dengan bahasanya yang ringan menggambarkan banyak orang yang “merasa” pantas memimpin hanya dengan menggunakan indikator-indikator sederhana. Katanya beberapa orang yang maju dalam pilkada disebabkan kondisi-kondisi yang amat sederhana, seperti ada seseorang yang sedang asyik bercermin di depan kaca, lalu menilai dirinya rapi, berpostur ideal dan sedikit berwibawa, maka orang itu berkesimpulan dirinya layak menjadi pemimpin dan ikut Pilkada. Ada lagi yang lain, ia sedang berkumpul dengan teman-temannya, lalu mendapat pujia dari meraka, lantaran orang tersebut “ganteng” dan pintar bicara. Oleh empat sampai lima orang temannya tersebut ia disarankan mendekati partai politik untuk maju dalam Pilkada.

Fenomena munculnya pemimpin demikian terlihat terlalu sederhana, namun tak mustahil terjadi dalam alam demokrasi kita dewasa ini. Demokrasi (terlanjur) menggunakan parameter suara terbanyak sebagai kebenaran, Sehingga apapun hasil dari persetujuan orang banyak itu akan menjadi sebuah kebijakan yang mau tidak mau dirasakan oleh semua orang. itulah dilema demokrasi !.

Jika kepemimpinan semata-mata dibekali oleh rasa percaya diri, baik individu, maupun golongan tertentu, tanpa dibekali oleh kemampuan yang memadai, maka lahirlah figur pemimpin yang tak memiliki visi, misi dan target capaian yang jelas selama masa kepemimpinannya. Pemimpin demikian, layaknya seorang siswa yang terus belajar cara menjalankan kepemimpinannya. Setelah periodenya berakhir, ia baru merasa bisa memimpin, sayangnya periode kepemimpinannnya keburu selesai. Akhirnya tak ada yang diperbuat selama ia memimpin. Pemimpin model demikian sangat mungkin memimpin menggunakan gaya kepemimpinan “warung kopi”.

Di warung kopi adalah lazim seorang pemilik warung atau pelayannya menyediakan apapun yang diminta oleh pengunjungnya. Rasa kopi yang dibuatpun harus mengikuti selera pasar. Jika seorang pemimpin memakai gaya warung kopi, ia akan menuruti apa saja kehendak rakyatnya, bahkan yang lebih tragis sang pemimpin akan dengan mudah mengikuti kehendak pasar (pengusaha besar/korporasi) untuk mengeruk keuntungan dalam banyak hal melalui kebijakan yang dikeluarkan sang pemimpin. Kepemimpinan demikianlah yang dimaksud dengan kepemimpinan responsive, pola kepemimpinan yang selalu merespon berbagai kehendak, tanpa menyaringnya dengan baik. Seorang pemimpin harus memiliki garis yang tegas untuk mencapai visinya mensejahterakan rakyat, bahkan untuk itu ia harus berani untuk tidak populer.

Celakanya, kini kita banyak menyaksikan kepemimpinan gaya demikian dalam berbagai level. Lahirnya pemimpin dengan gaya ini tak dapat dipisahkan dengan partisipasi kita dalam memilih mereka melaui berbagai mekanisme pemilihan, baik di level eksekutif dan legislatif dalam berbagi skop mulai dari tingkat desa hingga negara.

Sayangnya kepemimpinan ala warung kopi (nampaknya) tak memberikan garansi atas usia dan lamanya seseorang memimpin, sebab ia terkait dengan integritas, profesionalitas dan aksestabilitas yang akan membentuk visi, misi dan kerangka kerja yang jelas dari masing-masing individu. Seseorang yang pernah berkali-kali menjadi pemimpin tidak serta merta memiliki kemampuan kepemimpinan yang bertanggung jawab (responsible). Bisa jadi, semakin lama ia menjadi pemimpin, semakin kabur arah dan kebijakan kepemimpinannya, sebab kata Lord Acton ; Power tends to corrupt, Absolut power corrupts absolutelly (kekuasaan cenderung disalahgunakan, kekuasaan yang (terlalu) lama cenderung sewenang-wenang). Ajang demokrasi di republik ini tak lama lagi akan dihajatkan melaui berbagai ajang, mulai dari Pemilu legislatif, Pilpres dan Pilkada. Kitapun harus pandai mengambil pelajaran agar tidak (tertipu) menjatuhkan pilihan kepada pemimpin ala warung kopi! Wallahu’alam

Komentar
  1. danummurik mengatakan:

    Assalamu alaikum.
    Salam bapinanduan di wordpress.

  2. DHarMa sEtYAwaN mengatakan:

    sekarang yang penting ternyata harus populis dulu baru bisa menjadi pemimpin..
    misal aja di warung kopi, paling tidak orang mengenalnya sebagai paling pamandir…atau paling harat mahalabio…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s