Studi Hukum Bukan “Pelarian” !!

Posted: Januari 29, 2008 in tulisanku di media

Di hari pertama mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat menginjakkan kaki di kampus kami tercinta pada 31 Agustus 2006 lalu, Saya mengajak beberapa rekan mahasiswa baru berbincang-bincang perihal mengapa mereka memilih fakultas hukum, atau lebih tepatnya ilmu hukum sebagai lanjutan studinya di perguruan tinggi.

Beberapa dari mereka menjawab ringan terkait dengan cita-cita mereka yang ingin menjadi jaksa, hakim, pengacara dan berbagai profesi berlatar hukum lainnya, Namun beberapa yang lain menjawab secara sederhana dan agak menusuk batin saya. Mereka ternyata memilih studi hukum karena tak ada pilihan lain, tak lulus pada pilihan studi lain, bahkan ada yang dengan gampang menyatakan bahwa studi di Fakultas Hukum jauh lebih “mudah” dibanding fakultas-fakultas lainnya.

Sebagai orang yang selama ini berkutat pada ranah studi hukum dan meniatkan diri untuk mendidik kader-kader hukum masa depan, sekali lagi saya merasa terenyuh, sekaligus merenungkan apakah disiplin ilmu yang selama ini saya tekuni hanya menjadi “pelarian” ditengah ketiadaan pilihan ?

 

Hukum Kausalitas

 

Pertanyaan saya di atas, nampaknya menemukan jawaban kesementaraan, jika kita mengingat kembali hukum kausalitas atau hukum sebab akibat.

Dalam hukum kausalitas, tak mungkin ada akibat tanpa ada sebab, tak mungkin ada reaksi tanpa ada aksi, Maka nampaknya tak mungkin ada tesa yang meyatakan memilih studi hukum atas dasar “pelarian”, tanpa ada alasan yang melatarinya.

Hukum kausalitas mengajarkan kepada kita agar melakukan refleksi atas reaksi yang muncul terhadap kita. Dalam kontek pernyataan studi hukum sebagai “pelarian”-pun harus dimaknai sebagai bentuk refleksi atas compang-campingnya studi hukum selama ini.

Ada beberapa hipotesa yang dapat diajukan guna menjawab persoalan ini.

Pertama : Selama ini studi hukum diminati oleh lulusan SLTA dengan kapasitas rata-rata. Dapat ditelusuri, jarang sekali siswa-siswi SLTA berprestasi yang mendedikasikan dirinya untuk melanjutkan studi di Fakultas Hukum, kendati memang ditemukan beberapa lulusan terbaik SLTA yang masuk Fakultas Hukum. Input yang demikian, setidaknya akan menumbuhkan kesan yang kurang positif di level siswa-siswi SLTA/Sederajat terhadap studi hukum. Tak jarang, studi hukum dimaknai sebagai tempat berkumpulnya anak-anak yang tak berprestasi, bahkan bandel pada saat SLTA-nya.

Jika hipotesa pertama ini benar, bisa jadi ini terkait dengan rendahnya kualitas output yang dihasilkan fakultas-fakultas hukum di tanah air, Hal ini dapat dilihat dari tak sedikit alumni fakultas hukum yang tak mampu berkompetisi di masyarakat akibat miskinnya kompetensi, baik kompetensi akademik, maupun non-akademik, semisal moralitas dan integritasnya.

Kedua  : Harus secara jujur diakui, bahwa banyak orang-orang yang berlatar studi hukum belum dapat terserap lapangan kerja. Hal ini sangat mempengaruhi citra studi hukum ditengah masyarakat kita yang masih memaknai pendidikan sebagai sarana mencari pekerjaan, bukan sebagai sarana apresiasi kemampuan dan keahlian.

Ketiga    : Lemahnya penegakan hukum yang menjadi salah satu agenda reformasi, menjadikan banyak orang berfikir skeptis akan studi hukum. Terlebih,  persoalan lemahnya penegakan hukum banyak dilakoni oleh orang-orang berlatar studi hukum sendiri.

Keempat : Sedikit orang yang sedari awal bercita-cita menjadi orang yang memiliki keahlian dibidang ilmu hukum. Dalam kontek ini, saya menjadi teringat cerita masa kecil saya. Pada saat ditanya orang perihal cita-cita, dengan lantang saya dan teman-teman secara bergiliran menyebutkan cita-cita kami satu per satu. Ada yang ingin menjadi presiden, insinyur, pilot, dokter, polisi dan berbagai profesi lainnya. Sayapun tak terlalu ingat cita-cita teman sebaya saya pada saat kami masih duduk dibangku TK saat itu, Namun saya masih ingat bahwa tak ada satupun teman, termasuk saya yang menginginkan berprofesi di bidang hukum, baik menjadi hakim, jaksa, pengacara dan lainnya.

Dalam kajian psikologis, konon cita-cita menjadi bagian penting untuk membentuk pribadi yang profesional dibidang yang dicitakannya. Jika teori ini benar, bisa jadi kisah masa kecil saya diatas menjadi pertanda bahwa studi hukum pada dasarnya memang menjadi cita-cita “pelarian”, yang jika dipaksakan akan menghasilkan orang-orang yang tak meminati studi yang ia jalani, dan pada akhirnya akan mengorbankan sisi-sisi profesionalitas.

 

Insan Hukum Totaliter

 

Sebagai salah satu tuntutan dan harapan publik, dunia hukum saat ini sangat membutuhkan orang-orang yang memiliki cita mulia untuk terjun ke ranah yang satu ini, bukan orang-orang yang menjadikan dunia hukum, termasuk di dalamnya studi hukum sebagai “pelarian” semata. Disinilah dibutuhkan insan hukum totaliter, yaitu insan hukum yang sedari awal meniatkan dirinya untuk menempuh studi hukum sebagai sarana pengembangan dan aplikasi kemampuan, serta keahlian di bidang ilmu hukum.

Insan hukum totaliter akan mencintai studi hukum yang ia geluti. Karena kecintaannya, ia akan dengan senang hati mengembangkan keilmuan dibidang tersebut. Dan atas kecintaannya pula, ia tak akan mudah mencederai bidang keilmuannya dengan perilaku yang tak semestinya.

Insan hukum totaliter menjadi barang langka sekaligus kebutuhan mendesak fakultas-fakultas hukum, tempat dimana studi hukum dipelajari saat ini, Sebab tanpa hadirnya insan-insan hukum totaliter, agak sulit berharap dapat mengurai problemantika hukum ditanah air, yang salah satu penyebabnya adalah akibat miskinnya kompetensi akademik, moralitas dan integritas aparatur penegak hukumnya.

Rekayasa menuju penciptaan insan hukum totaliter dapat dimulai dengan mengembangkan pemahaman bahwa, menjadi orang berlatar belakang studi hukum tak kalah pentingnya dengan studi lain. Terlebih ditengah tuntutan penegakan hukum detik ini, hanya orang-orang pilihan-lah yang pantas menyelesaikan masalah besar bangsa ini. Profesi hukum tak kalah terhormat dengan profesi kedokteran misalnya, yang harus berjuang menyelamatkan nyawa-nyawa orang yang sekarat akibat penyakit. Profesi hukum-pun saat ini  dipanggil untuk menyelamatkan nyawa bangsa yang sekarat akibat lemahnya penegakan hukum.

Pemahaman dapat ditanamkan sejak dini bagi mereka yang belum mengambil studi hukum sebagai lanjutan jalan meniti masa depannya, Pemahaman yang sama juga harus menjadi ruh bagi mereka yang saat ini sedang menempuh studi hukum, namun masih menjadikan studi hukum sebagai “pelarian” sebagaimana celoteh ringan beberapa mahasiswa baru tadi.

Jika kita merindukan tegaknya hukum dan keadilan di tanah Indonesia ini, Maka dengan setengah memohon saya ingin berucap “Jangan jadikan studi hukum sebagai pelarian”!!

 (Pernah dimuat dalam Harian Mata Banua dan Banjarmasin Post)
Komentar
  1. Mujiburrahman SH mengatakan:

    menarik… makanya seharusnya harus di batas jumlah fakultas hukum yang ada di indonesia.. agar kualitasnya terjamin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s