Kalimantan (harus) Melawan

Posted: Januari 29, 2008 in tulisanku di media

Setiap kali menyebut nama Kalimantan, maka terbesit dua perasaan sekaligus dalam diri saya. Perasaan bangga karena dilahirkan di tanah yang sangat kaya sumber daya alam (SDA) nya, namun di saat yang bersamaan terkadang muncul rasa rendah diri lantaran Kalimantan ”enggan bangkit” dari berbagai ketertinggalan.

Berbagai pertanyaan refleksionis acap kali terlontar atas kondisi demikian. Mengapa Kalimantan yang ”besar” selalu terkerdilkan dalam berbagai ranah sosial, politik, ekonomi bahkan kebudayaan. Kalimantan yang besar justeru menjadi objek garapan daerah lain, bukan sebagai subjek penggarap untuk daerah lain, bahkan untuk dirinya sendiri.

Kekayaan alam yang keluar dari perut bumi Kalimantan dalam berbagai variannya masih berupa bahan baku mentah yang dikirim keluar daerah untuk diolah dan dijual kembali ke daerah ini untuk dikonsumsi dengan harga yang tinggi. Sebuah ironi, bak ”kelaparan” di kampung petani.

Membangun Kesadaran

Kekayaan alam yang tersedia di bumi Kalimantan di satu sisi menjadikan kita (baca: penduduk asli) harus bersyukur, namun terkadang kekayaan tersebut justeru menjadi momok bagi penduduk asli Kalimantan yang telah menghuni pulau ini turun temurun.

Secara sederhana, kekayaan alam yang melimpah membuat etos kerja dan semangat juang penduduk asli Kalimantan tak sekeras penduduk di pulau lain yang daerahnya tak sekaya pulau ini. Di pulau-pulau tertentu di republik ini yang miskin sumber daya alam, penduduk setempat dituntut bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, cara-cara seperti bertani, berkebun atau bahkan bekerja pada sektor-sektor lain yang membutuhkan tenaga ekstra diperlukan sebagai konsekwensi menyambung hidup. Hal berbeda ditemukan didaerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam, termasuk Kalimantan. Kecenderungan penduduk setempat untuk menyambung hidup adalah memungut kekayaan alam sekitar secara instan, tanpa mau mengolahnya lebih lanjut.

Pada puluhan tahun lalu, dimana hutan Kalimantan masih menjanjikan untuk terus ditebang dan kayu-kayu kasarnya dijual oleh penduduk setempat, membuat cara pandang yang instan pada penduduk setempat. Cara pandang (mindset) ini lambat laun ”dimanfaatkan” oleh pengusaha dan korporasi untuk menjajah hutan Kalimantan.

Cara pandang yang menginginkan serba instan adalah paradok dengan semngat kompetisi yang nyatanya dibutuhkan di era kekinian.

Hal lain yang membuat cara pandang instan tersebut terus terpelihara adalah minimnya jumlah penduduk di kawasan ini. Minimnya jumlah penduduk berekses pada minimnya kompetisi diantara penduduk setempat.

Cara pandang yang instan dan tidak kompetitif akan terusik ketika kondisi mengharuskan penduduk demikian berkompetisi. Hal inilah yang terjadi pada beberapa komunitas di Kalimantan dalam menghadapi etnis-etnis pendatang yang memiliki modal kompetisi yang baik. Etnis pendatang demikian mampu merubah kehidupannya lebih baik dibanding penduduk setempat yang telah puluhan bahkan ratusan tahun menghuni kawasan itu. Kondisi demikian tak jarang melahirkan konflik diantara mereka.

Konflik serupa idealnya tak pernah terjadi, jika sedari awal penduduk asli Kalimantan memiliki kesadaran untuk berjuang dan bekerja keras dalam menghadapi kompetisi yang tak dapat dibendung kedatangannya. Kompetisi yang kian hari kian menuntut penduduk Kalimantan mampu secara sadar meninggalkan gaya hidup instan yang bergantung dari cara-cara menguras kekayaan alam pulau ini menuju cara pandang yang mengedepandan pada keahlian dan etos kerja.

Kesadaran tersebut harus dibangun hari ini, sebelum hutan, batu bara, emas, mangan, biji besi dan berbagaikekayaan alam Kalimantan habis dikuras oleh cara berfikir instan kita. Kesadaran tersebut hanya dapat dibangun, jika kita tidak memandang Kalimantan sebagai arena preogratif yang menjadi hak mutlak kita sebagai penduduk aslinya, namun memandang Kalimantan sebagai area tanpa batas bagi persaingan global. Pilihannya adalah merubah cara berfikir atau membiarkan kita ”terusir” di tanah kita sendiri.

Kita Perlu Simbol

Pembangunan kesadaran dengan menitikberatkan pada perubahan cara pandang yang instan dan tidak kompetitif menjadi cara pandang yang lebih kompetitif dalam menyikapi Kalimantan kekinian adalah instrospeksi internal yang harus dilakukan oleh siapapun yang lahir, tinggal dan mengaku dirinya bagian dari Kalimantan detik ini.

Selanjutnya, Kalimantan juga perlu membangun etalase eksternal agar eksistensinya terlihat dalam ranak keindonesiaan, bahkan dunia. Selama ini orang akrab mendengar kata Kalimantan yang memiliki hutan dan satwa yang tak terhitung jumlahnya, namun kini kekayaan demikian telah menipis. Hari ini, Kalimantan idealnya mencitrakan dirinya sebagai daerah yang sejajar dengan daerah lain dalam berbagai hal.

Untuk menjawab hal tersebut sangatlah tidak mungkin jika berharap terjadinya akselerasi Kalimantan di berbagai bidang, maka etalase Kalimantan dalam berbagai bidang bisa jadi menjadi jawaban atas masalah ini. Etalase yang memungkinkan segera digagas bersama adalah pemunculan tokoh asal Kalimantan dalam berbagai bidang sebagai simbol Kalimantan melawan.

Dalam kajian psikologi, simbol yang kemudian menjelma menjadi idola akan sangat mempengaruhi cita-cita seseorang. Seorang anak yang sedari kecil mengidolakan seorang dokter, maka akan membentuk alam bawah sadarnya untuk menjadikan dokter sebagai cita-citanya.

Dalam kontek ini, simbol menjadi sangat penting untuk menjadi sumber inspirasi bagi setiap orang. Munculnya orang-orang seperti Gusti Hendy, Ian Kasela, Moldy, Arul, Hendry Lamiri, Ananda dalam dunia berkesenian tingkat nasional misalnya, adalah simbol kebangkitan orang Kalimantan di dunia itu yang akan menjadi inspirasi anak-anak muda Kalimantan lainnya untuk mengikuti jejak mereka.

Begitu pula dengan munculnya Idham Chalid, Hamzah Haz, Sa’adillah Mursyid, Syamsul Mu’arif, Taufiq Effendy dalam jajaran kabinet akan menjadi inspirasi putra-putri terbaik Kalimantan lainnya untuk mengikuti jejak mulia mereka.

Simbol, bagaimanapun sangat dibutuhkan bahkan mendesak untuk terus dimunculkan, baik sebagai identitas ke-Kalimantan Selatan-an, maupun sebagai identitas kemampuan orang Kalimantan di ranah nasional. Tanpa simbol-simbol seperti diatas, sulit untuk menyatakan bahwa orang Kalimantan sejajar dengan putra-putri Indonesia dari daerah lain.

Simbol dapat muncul dengan sendirinya, tanpa desain dan skenario untuk memunculkannya, Namun, simbol juga dapat dirancang sedemikian rupa untuk memunculkannya dalam berbagai ranah, termasuk memunculkan simbol-simbol kebanggaan orang Kalimantan di ranah nasional dalam berbagai bidang, latar dan profesi.

Desain simbol dan pemunculan orang-orang berkaliber nasional asal daerah tertentu nampaknya telah lama dipakai orang-orang Padang, Sumatera Barat, Batak, Sumatera Utara dan terakhir orang-orang Sulawesi Selatan. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya tokoh asal daerah-daerah tersebut yang mengemuka di ranah nasional. Sebaliknya, munculnya orang-orang Kalimantan diatas, dalam hipotesa saya lebih banyak merupakan kemunculan simbol tanpa desain, alias atas perjuangan sendiri, tanpa melibatkan konsolidasi dan strategi pemunculan simbol secara sadar dan bersama-sama.

Hentikan Konfilk!

Desain simbol dalam konteks pemunculan orang-orang Kalimantan membutuhkan konsolidasi dan solidaritas yang kuat, Bahkan terkadang membutuhkan sikap lapang dada untuk memunculkan dan mendukung tokoh tertentu secara bersama-sama, tanpa harus merasa tercederai, apalagi tersaingi.

Salah satu faktor rumitnya pemunculan simbol-simbol orang Kalimantan adalah adanya budaya berkonflik. Budaya ini menjadikan sesama orang Kalimantan selalu terlibat konflik dan pertarungan yang mengarah kepada kompetisi yang kurang sehat, Akibatnya kita selalu sibuk berkonflik, sementara orang lain (baca; daerah lain) terus melakukan konsolidasi dan memunculkan banyak simbol di berbagai ranah di level nasional.

Kita banyak melewatkan begitu saja momentum-momentum pemunculan simbol, tanpa hendak melakukan konsolidasi untuk mendorong orang Kalimantan tertentu yang dianggap “layak jual” sesuai dengan bidang dan kompetensinya. Ketidaksadaran atau bisa jadi kesengajaan untuk tidak memunculkan simbol-simbol ini terjadi pada hampir seluruh masyarakat Kalimantan ini, termasuk para elitnya. Terkait dengan budaya berkonflik, jangan-jangan kita lebih senang melihat tidak satupun orang Kalimantan yang mampu eksis dilevel nasional, daripada harus berbesar hati melihat saudara kita sendiri menjadi tokoh dan icon kebangaan Kalimantan ini.

(Dipublikasikan oleh Harian Banjarmasin Post)

Komentar
  1. An_Nisa mengatakan:

    Mari kita bersama-sama membangun Kalimantan
    rasa cinta terhadap tanah kelahiran sebagai wujud awal mulainya proses membangun!!

  2. Abdul Wahab Kiak mengatakan:

    Mari kita membangun Kalimantan dengan menghormati Hak-hak Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s