Haji Umar dan Inspirasi Kita

Posted: Januari 29, 2008 in Tentangku

Siang itu, setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA) menuju Shah Alam, tempat kediaman kolega yang menjemput saya dan isteri dari Bandara, kami pun menyempatkan diri untuk menyantap makanan Melayu yang amat kental bumbu-bumbunya di sebuah kedai makan di dekat Blue Mosque yang terlihat amat mewah di pusat kota pemerintahan Negara Bagian Selangor, Malaysia.

Sambil menyantap makanan, kamipun sembari berbincang-bincang. dengan kolega saya yang bernama Firdaus, alumni Al-Azhar University Mesir yang sedang mengambil program Masters di University Malaya dan seorang lagi bernama Haji Umar yang menjadi sopir pada saat itu.

Dalam perbincangan itu ada satu hal yang membuat saya tersentak kagum. Ternyata Haji Umar adalah seorang Pensiunan Profesor Pada Universiti Tekhnologi Mara (UiTM) yang pernah mengenyam pendidikan Doktor pada Indiana University di Amerika Serikat. Haji Umar adalah orang Melayu yang kakeknya berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan. Setelah pensiun, Haji Umar banyak menghabiskan waktunya di Surau dekat rumahnya di Shah Alam. Di Surau inilah Haji Umar menjalin hubungan baik dengan kolega saya yang asli orang Makassar dan memiliki isteri orang Barabai, sekampung dengan saya.

Dalam perbincangan di Kedai itu ada beberapa hal yang membuat saya kagum atas Haji Umar, Pertama : Sebagai seorang pensiunan professor di salah satu Universitas besar di Malaysia, Haji Umar berpenampilan sederhana, santun dan ramah. Jauh dari tampilan professor dan/atau doktor di banyak sudut di negeri kita. Haji Umar nampaknya sadar betul bahwa hakikat pendidikan adalah mengasah akal dan budi. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula pola pikirnya yang harus berbuah pada berbagai kebajikan. Pendidikan menistakan lahirnya ilmuwan-ilmuwan yang cerdas pikirannya, namun picik moralnya. Pendidikan tentu tak pernah mencanangkan hadirnya makhluk dengan tampilan material berlebihan dan menjadikan pendidikan tinggi yang ada pada dirinya sebagai racun bagi lingkungan sekitar. Jika Haji Umar berada di Indonesia, pastilah ia menjadi makhluk langka, sebab di negeri ini semakin menjamur para ilmuwan yang menjadikan ilmunya sebagai “senjata” untuk meraih keuntungan pribadi, maupun golongannya. Analog seorang professor dengan tampilan amat serius dan killer dalam banyak film dan sinetron, nyatanya banyak didapati dalam dunia Perguruan Tinggi di negeri kita, celakanya kadang “keseriusan” dan “ke-killer-an” itu sengaja dibuat untuk meraih keuntungan dengan cara instan.

Kedua : Setelah seorang pelayan kedai makanan menghampiri kami guna menanyakan menu yang akan di pesan, Haji Umar berbisik kepada saya dan mengatakan bahwa hampir seluruh karyawan rendahan di Malaysia, seperti pembantu, pramuniaga, tukang dan lain-lain adalah pekerja dari Indonesia. Kondisi demikianlah yang turut memperburuk citra bangsa kita di negeri Jiran ini. Hal ini sangat kontradiktif dengan keadaan beberapa tahun lalu ketika Haji Umar masih kanak-kanak dan remaja. Haji Umar adalah lulusan dari Universiti Malaya pada tahun 1974. Sebagai generasi awal yang menempuh pendidikan tinggi di Malaysia, beliau sangat respek terhadap Indonesia. Haji Umar ingat betul bahwa di awal-awal kemerdekaan Malaysia, guru-guru diimpor dari Indonesia, terutama guru Matematika, Fiska dan Kimia. Guru-guru inilah yang membawa perubahan fundamental bagi kemajuan Malaysia hari ini. Para guru ini memiliki keturunan yang kemudian hari masuk dalam elit Pemerintahan Malaysia, Sebagai contoh, baru-baru ini Gubernur Negara Federal Selangor terpilih adalah keturunan Jawa bernama Khair bin Toyo, Sultan Selangor konon adalah keturunan Bugis, Makassar, begitupula dengan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato’ Nadjib, termasuk Haji Umar yang keturunan Banjar. Keadaan demikian hendaknya menjadi modal bagi perbaikan citra dan hubungan Indonesia-Malaysia yang beberapa tahun terakhir memperlihatkan kondisi yang kurang positif. Gambaran diatas juga seakan mengesankan bahwa selama berpuluh tahun orang-orang keturunan Indonesia mampu hidup layak dan bermartabat. Keadaan yang belum tentu didapat jika terus berdomisili di Negara kita.

Ketiga  : Dalam perbincangan pada saat makan siang itu ada satu pertanyaan Haji Umar yang membuat saya terasa malu. Beliau menanyakan .” Dari mane sokongan biaye studi Rifqi? “ kata Haji Umar ringan. Pertanyaan Haji Umar sesungguhnya sangat lumrah, bahkan juga ditanyakan oleh hampir seluruh rekan yang mengetahui saya ingin melanjutkan studi ke Malaysia, sebab biaya studi di Malaysia tidaklah kecil, terlebih ditambah biaya penginapan dan biaya hidup yang jika dihitung-hitung lebih tinggi dibanding Jakarta sekalipun. Pertanyaan Haji Umar tersebut saya jawab dengan jujur bahwa seluruh biaya studi saya tanggung sendiri. Haji Umar-pun setengah terkejut, sebab ia tahu bahwa saya hanyalah seorang dosen muda di sebuah Universitas Negeri dan ia tahu persis gaji seorang dosen di Indonesia tak sampai seperempat gaji dosen di Malaysia. Seakan ingin memperbandingkan, Haji Umar-pun bercerita tentang komitmen pemerintah Malaysia terhadap masalah pendidikan, ia pun mencontohkan bahwa pada tahun 1984 ia melanjutkan studi di Amerika Serikat dengan mendapatkan sokongan dana dari Pemerintah sebesar US$ 100.000 sehingga ia pun dapat memperoleh gelar P.hD. Bahkan anak Haji Umar yang baru dua tahun berkuliah di Sidney University di Australia mendapat sokongan dana sebesar US$ 400.000 untuk memperoleh gelar Sarjana Tekhnik di bidang elektronika.

Pertanyaan Haji Umar membuat saya malu, sebab saya tahu betul negeri saya tidaklah terlalu miskin untuk sekedar menyekolahkan orang-orang seperti saya yang pasti akan kembali untuk mengajar di universitas tempat saya bekerja. Rasa malu itu semakin menguat, jika saya sadar bahwa saya berasal dari Kalimantan Selatan, sebuah propinsi yang amat kaya dengan sumber daya alamnya. Terlebih jika dibandingkan beberapa Negara Asia Tenggara, baru Indonesia yang berani mematok prosentase dana pendidikan di Konstitusi, kendati tak pernah ditaati. Tapi itulah keadaannya. Saya pun menjawab paparan Haji Umar dengan senyum sembari bergumam dalam lubuk hati, “Semoga generasi setelah saya merasakan manisnya kisah dan pengalaman seperti yang Haji Umar, anaknya dan banyak lagi warganegara Malaysia lainnya dalam menempuh studi. Jika pun hal itu tak pernah terjadi, mudah-mudahan masih ada orang yang mau berjuang menuntut ilmu dengan menghabiskan hampir seluruh tabungan, bahkan berhutang demi satu cita-cita membangun Peradaban Banua dan Negara yang lebih baik”…Salam dari Malaysia.

Komentar
  1. ika mengatakan:

    Saya jadi teringat perbincangan dengan seorang teman yang mendapat beasiswa dari Kerajaan Malaysia, dia nantinya akan menjadi dosen dengan ikatan dinas begitu istilahnya di Indonesia. Sewaktu kami berbincang masalah gaji dosen, teman Malaysia saya ini terkaget2 mendengar betapa kecilnya gaji seorang dosen PNS gol. IIIA seperti saya ini dibandingkan dengan gaji dia setelah lulus dari master nanti di Malaysia. Indonesia..ohh..Indonesia…

  2. nuri mengatakan:

    Aku baru tahu kalo kamu sekolah di malaysia dengan biaya sendiri Ki. begitulah kondisi pendidikan di Indonesia ya. beberapa orang alumni jepang (yang aku kenal), akhirnya hijrah ke malaysia sebagai dosen, karena dari segi financial, hidup di malaysia sebagai dosen lebih sejahtera ketimbang jadi dosen di negeri sendiri. Kata temeku yg juga dosen muda di malaysia, gaji sebulan sekitar 600-700 RM…berapa kalinya gaji dosen di Ina yah…ck..ck.ckkkkkkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s