Banua Tanpa Oposisi

Posted: Januari 29, 2008 in tulisanku di media

Adalah celaka, jika semua poros politik mengarah ke istana. Apa yang menjadi sabda penguasa dianggap sebagai kebenaran yang sesungguhnya. Siapa yang berkata tidak dianggap musuh, lalu terhina. Akibatnya lahirlah kekuasaan tanpa ”lawan”

Narasi diatas adalah gambaran sebuah negeri tanpa oposisi, lantaran tak ada segelintir orang pun yang berani mengatakan tidak pada penguasa. Kondisi demikian biasa lahir dalam pergulatan kekuasaan yang absolut dan sewenang-wenang.

Bangsa ini pernah mengalami kondisi demikian, lantaran corak kekuasaan orde baru selama puluhan tahun sangat otoritarian. Oposisi ibarat barang haram dalam orde itu. Perbedaan ibarat ”kiamat” dan pemaksaan kehendak oleh penguasa adalah lumrah.

Salah satu contoh fenomenal kala itu adalah diberlakukannya UU No.3 Tahun 1985 tentang Penggunaan asas Pancasila bagi organisasi sosial, politik dan kemasyarakatan. Akibat dari UU tersebut, seluruh organisasi yang ada pada saat itu, termasuk partai politik ”dipaksa” merubah asasnya menjadi Pancasila.

Tidak adanya oposisi bukan hanya dikarenakan tidak adanya sekelompok masyarakat yang berani mengambil sikap berseberangan dengan penguasa, namun juga bisa dikarenakan kondisi negara yang amat otoritarian. Dengan kata lain, dalam kondisi yang lebih demokratis idealnya oposisi bukanlah barang langka.

Mengapa Perlu Oposisi ?

Pertanyaan kritis dari tulisan ini adalah, mengapa perlu oposisi?. Ada beberapa jawaban yang dapat diketengahkan. Pertama: Dalam perumusan negara demokrasi, kekuasaan tanpa pengawasan akan menghasilkan kekuasaan yang absolut, sebab corak kekuasaan pada dasarnya rawan disalahgunakan (power tends to corrupts). Kedua : Dalam kajian hukum ketatanegaraan, terjadinya keseimbangan antara sesama pemerintah (eksekutif, legislatif dan yudikatif), maupun keseimbangan antara pemerintah dan masyarakat adalah keniscayaan. Oposisi pada dasarnya ingin menegaskan, bahwa supremasi kekuasaan bukan hanya ditangan pihak penguasa (eksekutif misalnya), melainkan juga dimiliki oleh pihak-pihak diluar penguasa, baik di level intra-pemerintahan (legislatif misalnya), maupun di level ekstra pemerintahan dalam hal ini adalah masyarakat. Keseimbangan tersebut dapat dilakukan jika terdapat keberanian untuk mengawasi, mengkritik bahkan berseberangan dengan pihak yang sedang berkuasa. Ketiga : Dalam konteks Indonesia, termasuk di dalamnya Kalimantan Selatan yang sedang berada dalam transisi demokrasi. Oposisi akan memberikan pelajaran demokrasi kepada semua pihak, utamanya penguasa, bahwa dalam demokrasi perbedaan adalah keniscayaan, kritik adalah kekuataan dan penyamarataan adalah musuh utama demokrasi. Keempat : Dengan adanya oposisi, maka akan mudah terukur sejauh mana mentalitas si penguasa. Penguasa yang memusuhi kaum oposisi adalah penguasa bermental kerdil, sebab penguasa besar adalah penguasa yang menumbuhsuburkan beragam warna dalam dinamika kekuasaannya.

Menerjemahkan Oposisi

Kita sering gamang menerjemahkan oposisi dalam konstalasi politik ketatanegaraan. Oposisi identik dengan partai politik yang kalah mengusung calonnya dalam pemilihan kepala eksekutif, utamanya presiden.

Pemahaman demikian tak sepenuhnya salah, namun belum terlalu komprehensif. Oposisi sesungguhnya dapat hadir dalam berbagai struktur ketatanegaraan, baik di ranah suprastruktur, maupun inprastruktur politik.

Di ranah suprastruktur politik, oposisi dapat digagas pada lembaga legislatif, utamanya melalui fungsi pengawasan yang dimilikinya. Oposisi dalam konteks ini adalah sebuah bentuk ”keberanian” untuk tidak selalu mengiyakan apa yang menjadi kebijakan pihak eksekutif. Adalah sebuah kisah getir, ketika terdapat suatu rancangan peraturan perundang-undangan (RUU dan/atau Raperda) yang diusulkan oleh eksekutif, kemudian disahkan oleh legislatif, tanpa dilakukan pengkajian apa-apa. Jika ini yang terjadi, maka lembaga legislatif tak lebih dari ”tukang stempel” berbagai kebijakan eksekutif.

Oposisi di lembaga legislatif tak mengharuskan lembaga tersebut selalu mementahkan berbagai policy yang dibuat eksekutif, akan tetapi setidaknya ada banyak varian ”suara” di lembaga tersebut. Disinilah biasanya oposisi partai politik yang memiliki perwakilan di legislatif menjadi sangat popular diperbincangkan. Ada fraksi (perwakilan partai politik di legislatif) yang mendukung berbagai kebijakan pemerintah, adapula yang tidak (oposisi). Munculnya oposisi dalam khazanah lembaga legislatif akan mementahkan nyanyian Iwan Fals yang mengatakan wakil rakyat hanya bisa ”menyanyikan nyayian lagu setuju”.

Di ranah yang lain, oposisi juga dapat digagas dalam berbagai inprastruktur politik yang ada, bukan hanya melalui partai politik, melainkan juga melalui berbagai saluran inprastruktur politik, seperti gerakan mahasiswa, press, akademisi dan berbagai kelompok penekan lainnya.

Peran sebagai oposisi bukan hanya dapat dilakukan oleh partai politik yang memiliki perwakilan di lembaga legislatif, namun juga dapat dilakukan oleh partai-partai politik di luar lembaga legislatif. Peran oposisional partai politik diluar lembaga legislatif tak lazim dimainkan dalam khazanah politik ketatanegaraan kita, padahal berkaca dari filosofi dibentuknya partai politik sebagai penyalur aspirasi rakyat, peran partai hendaknya tak dibatasi oleh dinding-dinding ke-legislatif-an. Jika sikap oposisi hanya disuarakan tak kala berada di legislatif, bisa jadi partai-partai politik demikian hanya berorientasi pada kekuasaan yang sempit.

Peran oposisi lain yang sangat strategis dapat dilakukan oleh press. Tak dapat dibayangkan jika press hadir hanya untuk menjadi ”corong pemerintah”. Kritik dan suara-suara yang berseberangan tak akan pernah memiliki ruang untuk dimunculkan.

Kampus juga memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menelurkan gagasan oposisional melalui akademisi dan mahasiswanya. Kedua kekuatan ini beberapa kali membuktikan ”tajinya” dalam sejarah pergolakan kekuasaan. Persekongkolan kampus dengan panguasa yang membabi buta adalah langkah awal hadirnya ototarianisme, Sebaliknya kampus yang selalu berpandangan objektif, bahkan sesekali oposisional dalam memandang berbagai kebijakan penguasa adalah harapan bagi lahirnya demokratisasi. Sulit membayangkan, jika akademisi kampus dan gerakan mahasiswanya telah ”terbeli” oleh bujuk rayu penguasa yang sangat pragmatis, hingga ”membisukan” suara-suara lantang kampus yang menjadi ciri khasnya.

Oposisi di Banua ?

Pasca reformasi yang diikuti oleh kebijakan otonomi daerah, sesungguhnya setiap daerah memiliki otonomi politik pula, tak terkecuali banua kita.

Dalam ranah otonomi politik itu, penguasa lokal (baca; gubernur, bupati dan/atau walikota) sangat mungkin menyulap diri menjadi ”raja kecil”. Dalam kontek ini, oposisi sangat berkepentingan untuk menyelamatan banua dari ”kecelakaan politik” karena lahirnya raja-raja kecil itu.

Sayang, sampai detik ini belum ada kelompok yang secara tegas menyatakan diri sebagai oposisi di Banua ini, baik di ranah suprastruktur politik (DPRD misalnya), maupun inprastruktur politik (press, gerakan mahasiswa, LSM dll). Padahal menjadi oposisi adalah sebuah keniscayaan jika kita masih percaya pada demokrasi. Kendati dalam beberapa kebijakan ada kelompok tertentu yang kontra dengan penguasa, namun lambat laun sikap oposisional itu ”mencair”.

Oposisi di Banua idealnya diletakkan sebagai kontrol permanen terhadap penguasa. Kontrol yang tetap selalu bertendensi pada nilai-nilai kebenaran, bukan kepentingan.

Menjadi oposisi ditengah tak ada kelompok lain yang berani mendedikasikan diri sebagai oposisi adalah langkah penyelamatan negeri dari berbagai praktek kelaliman kekuasaan.

Jika suatu negeri tak ada oposisi, maka negeri itu lambat laun akan menyulap para penguasanya menjadi Tuhan. Bagaimana dengan banua kita? Siapa yang berani menjadi oposisi?

(Dimuat oleh Harian Mata Banua dan Banjarmasin Post)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s